Karhutla di Berau Capai 7 Hektare, BPBD Waspadai Puncak Kemarau hingga Oktober 2026 

Petugas BPBD mememadamkan api di lokasi Karhutla. (IST/BPBD)

Ancaman bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau menjadi perhatian serius Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau. Kondisi cuaca yang masih berada dalam fase panas ekstrem membuat potensi kebakaran diperkirakan terus meningkat hingga puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung pada Oktober 2026 mendatang.

Kepala Pelaksana BPBD Berau, Masyhadi Muhdi, mengungkapkan bahwa hingga Kamis (11/6/2026), pihaknya telah menangani sedikitnya lima kejadian kebakaran hutan dan lahan dengan total luasan terdampak mencapai sekitar tujuh hektare.

“Lima kasus tersebut terjadi sejak awal Mei 2026 hingga sekarang. Kami masih terus bersiaga karena puncak musim kemarau diperkirakan masih beberapa bulan lagi,” ujarnya.

Masyhadi menjelaskan, titik-titik kebakaran tersebar di tiga kecamatan. Di Kecamatan Teluk Bayur, kebakaran terjadi di kawasan poros Labanan sebanyak dua kali, serta di wilayah Meraang dan Tumbit Melayu. Sementara itu, di Kecamatan Sambaliung, kebakaran terdeteksi di Kampung Sei Bebanir Bangun. Sedangkan satu titik lainnya berada di Kampung Bukit Makmur, Kecamatan Segah. Meski sejumlah kejadian karhutla telah terjadi, BPBD memastikan tidak ada korban jiwa dalam seluruh insiden tersebut. Selain itu, kebakaran juga tidak sampai merembet ke kawasan permukiman warga sehingga dampaknya masih dapat dikendalikan oleh tim gabungan di lapangan.

Untuk mencegah api meluas dan mengancam permukiman, BPBD Berau terus memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak. Penanganan kebakaran dilakukan secara terpadu bersama Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat), Manggala Agni, serta sejumlah perusahaan dan pihak ketiga yang berada di sekitar lokasi kejadian.

Masyhadi menambahkan, salah satu kendala utama yang dihadapi petugas saat melakukan pemadaman adalah minimnya sumber air di sekitar lokasi kebakaran. Kondisi ini kerap terjadi ketika titik api berada jauh di tengah kawasan hutan atau lahan yang aksesnya terbatas.

“Ketika lokasi kebakaran sulit dijangkau dan jauh dari sumber air, kami menggunakan pompa portabel yang dapat dibawa secara manual oleh petugas ke titik api,” pungkasnya. (TR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *