PERINGATAN Hari Laut Sedunia (World Oceans Day) dimanfaatkan sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga ekosistem laut. Melalui program Sekolah Pantai, para pelajar di Pulau Derawan diajak belajar mengenali dan mendata sampah pesisir sebagai bagian dari upaya pelestarian lingkungan sekaligus mendukung keberlanjutan sektor pariwisata daerah.
Kegiatan yang digelar Pemerintah Kampung Pulau Derawan bersama WWF-Indonesia dan Plastic Free Ocean Network (PFON) Derawan tersebut menjadi sarana edukasi terbuka bagi siswa untuk memahami ancaman sampah laut serta pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Berdasarkan data yang dihimpun WWF, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam mengatasi pencemaran laut. Setiap tahun, diperkirakan sekitar 1,3 juta ton sampah plastik mengalir ke perairan laut Indonesia. Kondisi ini tidak hanya mencemari lingkungan pesisir dan laut, tetapi juga mengancam keberlangsungan berbagai satwa laut yang dilindungi.
Di Pulau Derawan, keberadaan sampah plastik menjadi ancaman serius bagi spesies endemik dan satwa yang menjadi daya tarik wisata, seperti penyu hijau dan hiu paus. Kedua satwa tersebut rentan terjerat sampah plastik atau mengonsumsi mikroplastik yang terbawa arus laut.
Sebagai salah satu destinasi wisata bahari unggulan di Kabupaten Berau, Pulau Derawan terus berupaya memperkuat sistem pengelolaan sampah. Pemerintah Daerah Kabupaten Berau secara bertahap mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis TPS3R “RUPIAH” yang beroperasi di Pulau Derawan.
Dalam kegiatan Sekolah Pantai, para pelajar tidak hanya menerima materi edukasi mengenai jenis-jenis sampah, tetapi juga terlibat langsung melakukan pendataan sampah di kawasan pesisir. Melalui metode sederhana yang diterapkan, siswa diajak memahami kondisi lingkungan sekitar sekaligus mengenali sumber-sumber pencemaran yang berpotensi merusak ekosistem laut.
Kepala SMP Negeri 2 Pulau Derawan, Merliana, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, pembelajaran langsung di lapangan memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan pembelajaran di dalam kelas.
“Kegiatan Sekolah Pantai ini memberikan pengalaman dan wawasan baru bagi siswa kami. Mereka memang sangat perlu diajak belajar seperti ini, dengan harapan dapat menjaga lingkungan sekitar mereka,” ujarnya.
Hasil pendataan yang dilakukan para pelajar di sepanjang transek Pantai Kiani sepanjang 85 meter menunjukkan masih ditemukannya berbagai jenis sampah di kawasan pesisir. Dari kegiatan tersebut terkumpul sebanyak 0,991 kilogram sampah.
Jenis sampah yang paling banyak ditemukan antara lain puntung rokok, pecahan kaca, serta sedotan plastik sekali pakai. Temuan tersebut menunjukkan bahwa sampah-sampah berukuran kecil masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian karena berpotensi mencemari lingkungan dan membahayakan biota laut.
Setelah proses pendataan selesai, para peserta melanjutkan kegiatan dengan aksi bersih pantai. Sampah yang berhasil dikumpulkan kemudian dibawa ke TPS3R “RUPIAH” untuk ditimbang dan dipilah oleh tim operasional sesuai jenisnya agar dapat dikelola lebih lanjut.
Kepala Kampung Pulau Derawan, Indra Mahardika menegaskan, menjaga kebersihan laut merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, kelestarian laut menjadi modal utama bagi kehidupan masyarakat sekaligus sektor pariwisata yang berkembang di Pulau Derawan.
“Keindahan laut Pulau Derawan ini adalah aset utama kehidupan dan pariwisata kami di Derawan. Kesadaran dari generasi muda ini juga akan menjadi kunci keberlanjutan Pulau Derawan,” pungkasnya. (TR)












