Status kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Utara (Kaltara) masih berada pada level siaga. Sejumlah titik panas terdeteksi dalam beberapa hari terakhir.
Kepala Pelaksana BPBD Kalimantan Utara, Andi Amriampa, mengatakan kondisi tersebut menjadi sinyal awal meningkatnya potensi karhutla.
“Beberapa hari terakhir titik panas sudah mulai muncul, termasuk di wilayah Bulungan. Artinya, kewaspadaan harus kita tingkatkan sejak sekarang,” ujar Andi, Rabu (29/4/2026).
Ia menyebut, sebaran titik rawan tidak terpusat di satu lokasi, melainkan tersebar di beberapa kawasan, terutama di wilayah rawa dan hutan yang mulai mengering.
Kondisi tersebut, kata Andi, semakin rentan jika dipicu faktor kelalaian manusia yang masih kerap terjadi di lapangan.
“Yang kita khawatirkan justru human error. Seperti membuang puntung rokok sembarangan atau membuka lahan tanpa pengendalian saat kondisi kering,” katanya.
Meski potensi kebakaran mulai meningkat, ia menegaskan status penanganan saat ini masih siaga dan belum masuk tahap darurat.
“Status darurat itu kalau sudah terjadi kebakaran besar dan tidak terkendali. Selama itu belum terjadi, kita tetap di siaga dengan fokus pencegahan dan pemantauan,” tuturnya.
Ia menambahkan, sejak awal tahun BPBD Kaltara telah menetapkan status siaga hidrometeorologi, sebagai langkah antisipasi menghadapi berbagai potensi bencana, termasuk karhutla.
“Kita tidak boleh lengah, karena karhutla ini sangat dinamis dan bisa terjadi kapan saja,” ungkapnya.
Terkait aktivitas pembukaan lahan oleh masyarakat yang kerap menggunakan cara membakar, ia menyatakan masih dimungkinkan dalam skala terbatas, namun harus mengikuti ketentuan yang berlaku agar tidak memicu kebakaran lebih luas.
“Kalau membuka lahan harus ada sekat bakar dan dilaporkan. Jangan sampai api tidak terkendali,” tegasnya.
Di sisi lain, BPBD juga mengacu pada prakiraan cuaca yang menunjukkan puncak musim kemarau di Kalimantan Utara, yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga September 2026.
“Kemudian mulai menurun pada Oktober hingga November,” imbuhnya. (Muhammad Efendi)












