BATURUNAN Parau atau menurunkan perahu merupakan prosesi adat Banua yang dilaksanan tiap tahunnya pada bulan September dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-71 Kabupaten Berau dan ke-214 Kota Tanjung Redeb.
Selain itu, prosesi Baturunan Parau merupakan tradisi turun-temurun yang sarat akan makna kebersamaan dan gotong royong. Acara ini diawali dengan pembacaan doa oleh sesepuh adat, diikuti oleh masyarakat, pemangku adat, dan tokoh agama.
Sekretaris Daerah (Sekda) Berau, Muhammad Said, mengatakan atas nama Pemerintah Kabupaten Berau, dirinya sangat mengapresiasi dan menyambut baik pelaksanaan Baturunan Parau.
“Tentu saja, Baturunan Parau ini merupakan wujud kecintaan kita kepada budaya Banua, sebagai salah satu suku asli Kabupaten Berau,” kata Muhammad Said.
Dijelaskan, tradisi Baturunan Parau ini merupakan warisan inni muyangta. Tradisi ini menjadi bagian budaya dari Suku Banua yang menggambarkan hidup saling bergotong-royong.
“Artinya, masyarakat Suku Banua, memiliki kesadaran dan inisiatif tinggi untuk saling membantu, walaupun tanpa diminta,” jelasnya.
Kemudian, tradisi Baturunan Parau ini juga bertujuan untuk memperkuat ikatan tali silaturahmi antar warga masyarakat, sehingga tercipta kehidupan rukun dan damai. Hal ini juga menandakan bahwasanya warga Suku Banua mendambakan kehidupan yang damai tanpa perselisihan.
Said juga menyampaikan, bahwa Pemkab Berau berkomitmen untuk senantiasa mendukung segala bentuk pelaksanaan dan upaya pelestarian kebudayaan asli daerah, seperti Baturunan Parau ini.
Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Ilyas Natsir menjelaskan, Baturunan Parau bersifat merangkul, menjalin kebersamaan dan menghindarkan diri dari perpecahan, bersatu patuh menyatukan hati untuk secara bergotong-royong membangun kampung atau suatu daerah.
“Mari kita saling menghargai, menjunjung tinggi adat istiadat dan budaya yang dimiliki, agar kita semua dapat hidup dengan aman, tenang, harmonis dan bahagia,” pungkasnya. (RIZAL)












