TERTINGGI DI KALTIM

Inflasi Kabupaten Berau

Kabupaten Berau menjadi wilayah dengan inflasi tertinggi, tercatat 2,82 persen.

Kabupaten Berau, menjadi daerah paling tinggi inflasinya di Kalimantan Timur. Salah satu faktor utamanya adalah harga makanan.

——————————

Tekanan harga di Kalimantan Timur menguat sepanjang 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi year on year (y-on-y) Desember 2025 sebesar 2,68 persen, melonjak dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, meski masih di bawah rata-rata nasional.

Seluruh daerah pantauan IHK di Kaltim, tercatat mengalami inflasi tahunan. Dan Kabupaten Berau menjadi wilayah dengan inflasi tertinggi, disusul kota-kota utama lainnya.

Rinciannya: Berau 2,82 persen, Balikpapan 2,71 persen, Samarinda 2,70 persen, dan Penajam Paser Utara 2,08 persen sebagai yang terendah.

Sementara, dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Berau, kenaikan harga emas dan harga pangan menjadi pemicu inflasi di Berau pada bulan Desember 2025.

Badan Pusat Statistik (BPS) Berau mencatat inflasi year on year (y-on-y) pada Desember 2025 sebesar 2,82 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 110,29. Di mana angka IHK pada Desember 2025 ini menunjukkan kenaikan dibandingkan Desember 2024 yang berada di level 107,26.

Kepala BPS Berau, Yudi Wahyudi, menyebut, inflasi tahunan tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga pada kelompok makanan serta perawatan pribadi.

“Inflasi y-on-y Desember 2025 sebesar 2,82 persen ini terutama disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya,” ungkap Yudi, Selasa (6/1/2026).

Selain inflasi tahunan, BPS Berau juga mencatat inflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,23 persen, sementara inflasi year to date (y-to-d) hingga akhir tahun 2025 tercatat 2,82 persen.

“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan inflasi y-on-y mencapai 6,83 persen dan andil sebesar 1,99 persen,” bebernya.

Kenaikan harga terutama dipicu oleh komoditas perikanan seperti ikan layang, ikan tongkol, udang basah, dan ikan kembung, serta komoditas pangan lain seperti bawang merah, minyak goreng, beras, dan daging ayam ras.

“Komoditas hasil laut masih menjadi faktor dominan dalam pembentukan inflasi di Berau, seiring dengan fluktuasi pasokan dan cuaca,” ujarnya.

Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi cukup tinggi sebesar 10,88 persen, dengan emas perhiasan menjadi komoditas utama penyumbang inflasi dari kelompok tersebut.

Di sisi lain, beberapa kelompok pengeluaran justru mengalami deflasi. Kelompok transportasi tercatat mengalami deflasi terdalam sebesar 2,14 persen, yang terutama dipengaruhi oleh penurunan tarif angkutan udara.

“Deflasi pada kelompok transportasi cukup menahan laju inflasi secara keseluruhan, khususnya dari penurunan tarif angkutan udara,” imbuhnya.

Kelompok lain yang mengalami deflasi antara lain rekreasi, olahraga, dan budaya, perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga, serta pendidikan.

Untuk inflasi bulanan, kenaikan harga pada Desember 2025 dipicu oleh bawang merah, ikan layang, cabai rawit, emas perhiasan, daging ayam ras, dan bensin. Sementara, komoditas seperti beras, bayam, kangkung, ikan bandeng, dan gula pasir memberikan andil deflasi.

“Secara umum, perkembangan inflasi Berau hingga akhir 2025 masih relatif terkendali,” pungkasnya. (RIZAL/arie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *