KONFLIK tapal batas antara Kampung Biatan Ilir, Kabupaten Berau, dan Dusun Melawai, Desa Tepian Terap, Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), tidak hanya memicu ketegangan antarwilayah. Persoalan yang telah berlangsung lebih dari satu dekade itu kini berdampak langsung pada sektor pendidikan.
Pembangunan sebuah sekolah dasar filial di wilayah Kampung Biatan Ilir yang sempat mencapai sekitar 75 persen terpaksa terhenti. Hingga kini bangunan tersebut tidak dapat dilanjutkan akibat polemik batas wilayah yang belum menemukan titik terang.
Kepala Kampung Biatan Ilir, Abdul Hafid, mengatakan proyek pembangunan sekolah itu sebenarnya sudah berjalan cukup jauh. Namun pengerjaannya berhenti sejak tahun 2023 karena adanya klaim dari warga Dusun Melawai yang menyebut bangunan tersebut berdiri di area perbatasan. Sejak saat itu, tidak ada lagi aktivitas pembangunan karena situasi di lapangan dinilai tidak kondusif.
“Bangunannya sudah hampir selesai, sekitar 75 persen. Tapi sampai sekarang tidak bisa dilanjutkan karena ada intimidasi agar pembangunan dihentikan,” ujar Hafid, Kamis (5/3/2026).
Padahal keberadaan sekolah tersebut sangat dibutuhkan masyarakat. Saat ini sedikitnya 85 siswa sekolah dasar di wilayah Biatan Ilir tidak memiliki ruang belajar yang layak. Akibatnya, proses belajar mengajar terpaksa dilakukan di bawah kolong rumah panggung milik warga. Ruang kosong di bawah rumah dijadikan kelas darurat agar kegiatan pendidikan tetap berjalan.
“Kondisinya tentu jauh dari layak. Anak-anak belajar di bawah rumah warga karena tidak ada pilihan lain,” katanya.
Ia menilai situasi tersebut sangat memprihatinkan, mengingat pendidikan seharusnya menjadi prioritas utama pemerintah. Hafid berharap polemik tapal batas segera diselesaikan agar pembangunan sekolah bisa kembali dilanjutkan.
“Seharusnya anak-anak belajar di ruang kelas yang layak, bukan di kolong rumah,” ujarnya.
Salah satu relawan pengajar di lokasi tersebut, Asni (45), mengaku tergerak membantu mengajar meski tidak memiliki latar belakang pendidikan formal sebagai guru. Saat ini ia telah tinggal di wilayah Semindal, Kampung Biatan Ilir, sejak setahun terakhir dirinya ikut membantu proses belajar anak-anak secara sukarela.
“Saya memang bukan guru dan tidak punya sertifikat, tapi saya ingin berbagi pengetahuan yang saya punya, terutama soal agama,” katanya.
Sebelumnya, kegiatan belajar mengajar dilakukan di bangunan sekolah lama yang kondisinya sudah tidak layak. Bangunan kayu tersebut hanya memiliki tiga ruang kelas sehingga para guru harus bergantian mengajar. Selain itu, jarak dari pemukiman warga menuju sekolah juga cukup jauh, sekitar tiga kilometer, dengan akses jalan yang sulit dilalui terutama saat hujan karena berubah menjadi lumpur.
“Kami hanya berharap pembangunan sekolah yang sudah hampir selesai itu bisa dilanjutkan. Anak-anak di sini butuh tempat belajar yang layak,” pungkasnya. (MAULIDIA AZWINI)












