Pertumbuhan sektor peternakan di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara), masih berjalan lambat. Meski, lahan di Bulungan masih cukup luas, baik untuk pengembangan sektor pertanian maupun peternakan.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan, Kristiyanto menyebut, peningkatan produksi ternak pada 2025 relatif terbatas.
Untuk ternak besar seperti sapi, kambing, dan babi, kenaikan produksi hanya berkisar 4%. Sedangkan ternak unggas seperti ayam potong berkisar 5%.
“Kendala utamanya soal lahan,” kata Kristiyanto kepada wartawan, ditemui pada Kamis (22/1/2026).
Kendala lahan yang dimaksud, bukan soal kurangnya lahan di Bulungan untuk pengembangan peternakan. Namun, lahan yang terakses jaringan listrik.
“Peternakan modern, terutama unggas, sangat bergantung pada listrik,” ujarnya.
Menurut Kristiyanto, peternakan unggas skala besar membutuhkan pasokan listrik stabil untuk menjaga suhu kandang, termasuk pengoperasian blower pada sistem tertutup.
Keterbatasan infrastruktur pendukung itulah yang membuat minat investor dan peternak besar belum berkembang optimal.
Di tengah kendala tersebut, Dinas Pertanian Bulungan mendorong pola kemitraan antara peternak lokal dan perusahaan swasta. Salah satu kerja sama yang berjalan dilakukan dengan PT Japfa Comfeed Indonesia.
“Dalam kemitraan ini, perusahaan menyediakan DOC dan pakan, sementara peternak menyiapkan kandang dan lokasi. Pembayaran dilakukan setelah panen,” kata Kristiyanto.
Ia menegaskan, pola kemitraan tersebut membantu peternak dari sisi permodalan dan kepastian pasar, namun belum menyentuh persoalan utama seperti ketersediaan lahan dan listrik.
“Masalah infrastruktur tetap menjadi pekerjaan rumah. Tanpa dukungan listrik dan akses wilayah yang memadai, pengembangan peternakan sulit tumbuh lebih cepat,” pungkasnya. (muhammad efendi/disway kaltim)












