Sebuah Tongkang BG Marine Power 3066 dilaporkan Hanyut Karena Menabrak Jembatan Mahakam Ulu

Kapal yang menabrak Jembatan Mahulu pada Minggu pagi, 25 Januari 2026. (ist/ warga)

Pengamanan alur di Sungai Mahakam, dipertanyakan. Jembatan Mahulu kembali ditabrak kemarin. Dalam sebulan sudah 3 kali.

———————-

Dalam waktu kurang dari satu bulan, Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu), Kota Samarinda, sudah tiga kali ditabrak kapal tongkang. Insiden terbaru terjadi pada Minggu (25/1/2026) pagi, menambah daftar tabrakan sebelumnya pada 23 Desember 2025 dan 4 Januari 2026, sekaligus mempertegas persoalan serius pada pengamanan alur pelayaran di Sungai Mahakam.

Insiden terbaru terjadi sekitar pukul 05.10 Wita. Sebuah tongkang BG Marine Power 3066 dilaporkan hanyut dan membentur pelindung jembatan (safety fender) setelah rangkaian kapal yang tengah bertambat di perairan Sungai Mahakam kehilangan kendali. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Samarinda langsung melakukan penanganan awal dan mengerahkan tim ke lokasi kejadian.

Berdasarkan kronologi awal yang disampaikan KSOP Samarinda, kejadian bermula ketika kapal tugboat TB Atlantik Star 23 menabrak sebuah buoy atau pelampung tambat. Saat itu, buoy tersebut digunakan sebagai titik tambat oleh dua rangkaian kapal, yakni TB Marina 1631 yang menggandeng tongkang BG Marine Power 3066, serta TB Karya Star 67 yang menarik tongkang BG Bintang Timur 03.

Benturan tersebut menyebabkan sistem tambat tidak lagi berfungsi optimal. Tali tambat pada buoy dilaporkan terputus, sehingga dua rangkaian kapal yang sebelumnya dalam kondisi bertambat mulai bergerak dan hanyut mengikuti arus Sungai Mahakam.

“Kemudian, tali second towing milik TB Marina 1631 juga mengalami putus. Dengan terlepasnya pengaman tambahan tersebut, tongkang BG Marine Power 3066 tidak lagi dapat dikendalikan dan hanyut mengikuti arus sungai,” jelas salah satu Petugas KSOP Samarinda.

Dalam kondisi hanyut tanpa kendali, tongkang tersebut bergerak mendekati struktur Jembatan Mahakam Ulu dan akhirnya menempel serta membentur safety fender jembatan. KSOP memastikan bahwa benturan terjadi pada struktur pelindung jembatan, bukan langsung pada badan utama.

Untuk mencegah dampak yang lebih besar, KSOP Samarinda segera melakukan langkah pengamanan dengan mengerahkan tiga kapal assist ke lokasi kejadian. Proses evakuasi berlangsung selama kurang lebih tiga jam dan dinyatakan selesai sekitar pukul 08.00 Wita.

“Tongkang BG Marine Power kemudian berhasil ditarik menjauh dari area jembatan dan dipindahkan ke lokasi yang lebih aman guna pemeriksaan dan investigasi lanjutan,” tambahnya.

Insiden ini menjadi tabrakan ketiga yang terjadi di Jembatan Mahakam Ulu dalam kurun waktu sebulan terakhir. Sebelumnya, tabrakan pertama terjadi pada 23 Desember 2025, disusul insiden kedua pada 4 Januari 2026. Rentetan kejadian berulang ini memunculkan kekhawatiran terhadap efektivitas pengamanan alur pelayaran serta pengawasan aktivitas kapal di sekitar jembatan.

Menindaklanjuti insiden terbaru tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Perumahan Rakyat (DPUPR-Pera) langsung melakukan peninjauan lapangan ke Jembatan Mahakam Ulu.

Kepala Bidang Bina Marga DPUPR-Pera Kaltim, Muhammad Muhran, mengatakan pihaknya bergerak cepat setelah menerima laporan awal dari berbagai sumber. Informasi tersebut segera disampaikan kepada pimpinan sebelum tim teknis diterjunkan ke lokasi.

Menurut Muhran, peninjauan lapangan dilakukan sekitar pukul 10.00 Wita dengan fokus utama pada pemeriksaan visual terhadap struktur pelindung dan pilar jembatan yang berada di jalur benturan tongkang.

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan adanya kerusakan pada satu unit safety fender di sisi Samarinda–Loa Buah. Fender yang berada di posisi paling depan dari arah Samarinda tersebut mengalami perubahan posisi dan kerusakan fisik akibat benturan.

“Fender di sisi Samarinda–Loa Buah, tepatnya yang berada paling depan, mengalami kemiringan. Secara fisik juga terlihat adanya bagian yang gompal, tergores, dan mengalami retakan,” jelas Muhran, saat dihubungi Minggu (25/1/2026).

Selain fender, dampak benturan juga teridentifikasi pada struktur pilar jembatan. Dua pilar, yakni Pilar 8 dan Pilar 9, menunjukkan bekas benturan berupa goresan serta pengelupasan material pada permukaannya.

Muhran menegaskan bahwa temuan tersebut masih bersifat pemeriksaan awal secara visual. Untuk memastikan apakah benturan berulang berdampak pada kondisi struktural jembatan, DPUPR Kaltim saat ini tengah melakukan pengukuran teknis lanjutan bersama tim konsultan.

Pengukuran tersebut mencakup evaluasi geometri jembatan, seperti kemiringan pilar, kerataan lantai jembatan, kondisi expansion joint, trotoar, hingga elemen pendukung lainnya.

“Secara kasat mata dampaknya sudah terlihat. Namun, untuk memastikan apakah ada perubahan geometri atau pergeseran struktur, kami harus menunggu hasil pengukuran teknis dari konsultan,” terang dia.

Muhran juga mengungkapkan bahwa baru genap sepekan sebelum insiden terbaru, DPUPR Kaltim telah melakukan uji dinamis terhadap Jembatan Mahakam Ulu. Namun, dengan kembali terjadinya tabrakan dalam waktu singkat, hasil uji tersebut akan dikaji ulang bersamaan dengan temuan terbaru di lapangan.

“Uji dinamis sebelumnya masih dalam proses finalisasi. Dengan adanya kejadian ini, tentu hasilnya akan kami sandingkan dengan kondisi terkini untuk menentukan apakah diperlukan pengujian tambahan,”ujarnya.

Ia mengakui, frekuensi tabrakan yang terjadi dalam waktu berdekatan menjadi perhatian serius, mengingat potensi dampaknya terhadap kesehatan jembatan secara keseluruhan.

“Dalam sebulan jembatan ini sudah tiga kali tertabrak. Secara teknis, kondisi seperti ini tidak bisa dianggap ringan. Namun kami tidak ingin mendahului kesimpulan sebelum seluruh kajian selesai,” tegas Muhran.

Terkait pengaturan lalu lintas di atas jembatan, DPUPR Kaltim masih mengacu pada rekomendasi sebelumnya. Kendaraan dengan berat di atas 8 ton belum direkomendasikan melintas, sementara kendaraan di bawah batas tersebut masih diperbolehkan dengan pengawasan ketat.

Muhran juga menyoroti kondisi pilar di sisi Loa Buah yang saat ini tidak lagi dilengkapi pelindung fender, sehingga dinilai lebih rentan apabila kembali terjadi benturan kapal.

“Pilar di sisi Loa Buah saat ini tidak memiliki pelindung fender. Dari sisi teknis, ini tentu meningkatkan risiko apabila terjadi benturan kembali, terutama dari tongkang bermuatan besar,” katanya.

Ia berharap kejadian serupa tidak terus berulang, mengingat Jembatan Mahakam Ulu merupakan infrastruktur vital yang digunakan masyarakat setiap hari.

“Jembatan ini adalah aset bersama. Kami berharap pengamanan alur sungai bisa diperkuat agar kejadian seperti ini tidak kembali terulang. Kami bahkan berencana menutup akses, namun hal itu harus dikoordinasikan dengan seluruh jajaran, baik KSOP, Dinas Perhubungan dan pelindo,”pungkas Muhran. (MAYANG/arie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *