Ketergantungan Kalimantan Utara (Kaltara) terhadap pasokan telur dan daging ayam dari luar daerah masih cukup tinggi, karena belum seimbangnya produksi lokal dengan kebutuhan konsumsi masyarakat.
Plt. Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kaltara, Suhaeli, mengatakan bahwa berdasarkan neraca pangan 2026, kebutuhan telur di Kaltara mencapai 25.685 ton per tahun.
“Sedangkan produksi telur dari peternak lokal baru berada di kisaran 2.108 ton per tahun, sehingga masih terdapat kekurangan pasokan sekitar 23 ribu ton, yang selama ini dipenuhi dari luar daerah,” ujar Suhaeli, Selasa (17/2/2026).
Karena itu, Pemerintah Provinsi Kaltara terus mendorong penguatan produksi peternakan lokal melalui kemitraan.
“Melalui kemitraan, kami ingin mendorong peningkatan produksi lokal, agar ketergantungan pasokan dari luar daerah bisa ditekan,” tambahnya.
Ia juga mengaku bahwa pemerintah daerah telah menyiapkan program pengembangan ayam petelur. Kabupaten Bulungan menjadi salah satu lokasi utama, dengan tujuh titik pengembangan yang direncanakan menerima bantuan bibit DOC dan pakan berkualitas.
Selain telur dan daging ayam, pemerintah daerah juga mendorong pemenuhan komoditas pangan pendukung lainnya dari produksi lokal. Seperti beras, sayur, serta buah, agar kebutuhan pangan dapat dipenuhi secara berkelanjutan.
Menurut Suhaeli, keterlibatan petani dan peternak lokal dalam rantai pasok pangan diharapkan tidak hanya menjamin ketersediaan bahan pangan, tetapi juga menjaga perputaran ekonomi tetap berada di daerah.
“Kalau petani dan peternak kita berdaya, ekonomi daerah ikut tumbuh. Itu yang terus kami dorong,” pungkasnya. (Muhammad Efendi)












