Polemik Perpustakaan

Tere Liye

Baru-baru ini ramai di sosial media bahwa Perpustakaan Garden Library Puri (Garlip) Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 4 Berau yang juga sebagai pemenang Lomba Perpustakaan Sekolah tingkat nasional mencantumkan ebook Tere Liye tanpa izin. Hal tersebut diumumkan langsung oleh penulis asal Indonesia yang dikenal dengan nama Tere Liye pada postingan instagramnya, @tereliyewriter.

Dalam postingan tersebut mengatakan bahwa ribuan sekolah telah banyak mencantumkan ebook ilegal dan mengoleksi buku-buku fisik bajakan Tere Liye di website maupun perpustakaan sekolahnya. Padahal sejak dua tahun lalu pihaknya sudah sering mengumumkan sekolah-sekolah tersebut, namun tidak ada perubahan.
Diakuinya, kerugian penulis bisa mencapai ratusan miliar jika dihitung secara detail.

“Bukan main, website perpustakaan sekolah ini (SMAN 4 Berau) mencantumkan ebook Tere Liye tanpa izin. Alias maling. Lihat screenshot postingan. Tidak percaya, silahkan buka website perpus sekolah ini. Lihat sendiri buktinya,” tulisnya pada postingan tersebut.

Dirinya sangat menyayangkan, panitia Lomba Perpustakaan Sekolah Nasional tidak teliti dalam memeriksa website maupun koleksi fisik perpustakaan tersebut.

“Cek detail. Perpusnas ini kalian edukasi tidak perpus-perpus lain soal ebook ilegal,” ucapnya.

Ditegaskannya, perpustakaan sekolah tidak bisa beralasan lagi terkait hal tersebut. Pasalnya para penulis sudah ribuan kali melakukan kompalin serta mengedukasi terkait ebook bajakan. Untuk itu, dirinya meminta kepada kepala sekolah, guru, maupun pustakawan SMAN 4 Berau untuk segera menghapus ebook bajakan Tere Liye tersebut.

“Triliunan dana BOS diberikan ke sekolah-sekolah, bahkan beli right ebook saja mereka tidak sudi. Beli buku-buku saja mikir panjang,” tutupnya pada postingan tersebut.

Menanggapi itu SMAN 4 Berau melalui Perpustakaan Garlip mengeluarkan surat press release atas koreksi kepemilikan koleksi ebook karya Tere Liye di postingan instagram SMAN 4 Berau, pada Senin (23/9/2024).
Dalam surat itu, pihaknya mengklarifikasi bahwa tidak pernah membeli buku fisik maupun ebook bajakan. Apalagi menggunakan dana BOS. Pihaknya melakukan pembelian buku fisik melalui aplikasi resmi pemerintah (SIPLah), sedangkan untuk pembelian ebook pihaknya membeli melalui PT. Aksaramaya dan penerbit Erlangga.

Mengenai temuan Tere Liye tentang koleksi ebook ilegal, pihaknya mendapatkan ebook atas proposal pembuatan Anjungan Tempat Membaca (ATM) Digital, yang pihaknya sebarkan ke beberapa pihak yang tidak mengikat dengan tujuan membangun kepedulian kepada perpustakaan.

“Atas dasar itulah kami mendapatkan hibah ebook. Kami sangat menyesal ternyata di dalam hibah tersebut ada ebook illegal seperti yang saudara sampaikan dan itu merupakan kelalaian kami, karena tidak mengkroscek buku hibah tersebut,” tulis surat yang bertandatangan Kepala Perpustakaan Garlip SMAN 4 Berau, Evi Sulistyaningsih.

Menurutnya, pihak SMAN 4 Berau tidak ada unsur kesengajaan untuk mencantumkan ebook ilegal di dalam websitenya. Pihaknya sangat menghargai setiap usaha dan dedikasi yang telah dicurahkan dalam menciptakan karya tersebut. Sebagai bentuk tanggung jawab, pihaknya berkomitmen untuk menghapus ebook ciptaan Tere Liye dan akan membeli salinan resmi dari ebook tersebut serta tidak akan mengulangi kesalahan serupa.

Dengan keluarnya surat press release tersebut, penulis dan akuntan Tere Liye kembali mengunggah postingan di instagramnya, pada Selasa (24/9/2024). Ia menyebut klarifikasi yang di posting pada akun instagram SMAN 4 Berau masih tidak dapat diterima.

“Mau kalian jungkir balik, apapun argumen kalian, file PDF ini akan ada di website sekolah kalian. Bahkan saat kalian tidak merasa membeli, ebook-ebook ini hibah dan lain-lain. File ini ada website sekolah kalian yang bisa diakses siapapun,” tulisnya.
“Dan lucunya, kalian bergegas menghapus file PDF Tere Liye, tapi coba lihat pagi ini, ebook penulis-penulis lain masih di sana loh. Atau kalian menunggu penulis lain kompalin baru akan dihapus. Coba buka website sekolah kalian,” sambungnya.

Menurut Tere Liye, SMAN 4 Berau sibuk memamerkan prestasi sekolahnya. Dimana, SMAN 4 Berau memilih untuk membuat press release dengan penuh bela diri, bahkan tidak memikirkan nasib para penulis lainnya.

“Penulis-penulis akan berhenti menulis karena karyanya dicuri, kalian mau jadi pustakawan apa saat tidak ada lagi buku-buku baru. Kalian mau jadi perpustakaan yang diisi dengan apa,” tegasnya.
Ia juga berpesan kepada Perpustakaan SMAN 4 Berau agar segera menghapus ebook-ebook penulis lainnya di website Perpustakaan Garlip SMAN 4 Berau.

“Jadi sana. Segera hapus ebook-ebook penulis lain di website sekolah kalian dulu sebelum ngoceh klarifikasi,” tutupnya. (SAHRUDDIN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *