FOREST Carbon Partnership Facility – Carbon Fund (FCPF-CF) tak hanya menggelontorkan anggaran untuk pelestarian mangrove di Berau. Sektor pertanian pun kecipratan.
Dana yang dikelola Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Berau, mencapai Rp 1,4 miliar. Untuk peningkatan sektor pertanian dan peternakan.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Berau, Junaidi melalui Pejabat Analis Sarana dan Prasarana Pertanian, Hermansyah menerangkan pengelolaan pendanaan FCPF-CF adalah melaksanakan program pengembangan model perladangan.
“Salah satunya kita kembangkan model perladangan gilir balik,” kata Hermansyah, pekan lalu.
Perladangan gilir balik merupakan model yang mengintegerasikan pendapatan jangka pendek dan jangka menengah, melalui kombinasi tanaman pertanian, perkebunan, dan kehutanan.
“Sehingga, kita harap potensi pertanian kita bisa naik dan lebih baik lagi,” ujarnya.
Secara umum, Distanak Berau menyalurkan bantuan kepada petani berupa berbagai bantuan sarapa pertanian. Misalnya, pupuk, bibit buah, hingga alsintan.
Saat ini, untuk penyaluran bantuan sarana pertanian masih berproses. Sebab, masih dilaksanakan pengadaan barang-barang bantuan. Namun, untuk pengadaan pembelajaran dan pelatihan bagi sasaran sudah berjalan.
Dalam pelaksanaannya, kata Herman, Distanak Berau fokus pelaksanaan pada enam sub kegiatan. Yaitu pengawasan penggunaan sarana pendukung pertanian sesuai dengan komoditas, teknologi, dan spesifikasi lokasi. Kemudian, pengelolaan LP2B/KP2B dan LP2B, serta pembangunan, rehabilitasi, dan pemeliharaan prasarana pertanian lainnya.
“Kemudian juga, ada pengembangan kapasitas kelembagaan petani di kecamatan dan desa, pengendalian OPT tanaman pangan hortikultura, dan perkebunan. Terakhir, pemanfaatan SDG hewan/tanaman,” tuturnya.
Dirinya berharap langkah-langkah yang dipilib sebagai realisasi pendanaan FCPF-CF bisa mewujudkan pertanian berkontribusi, dalam upaya menekan emisi karbon.
“Kita tidak ingin petani beralih profesi yang berkaitan dengan merambah hutan,” ujarnya. (advertorial)












