KANTOR Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Berau menilai sistem pengawasan transportasi laut yang masih mengandalkan komunikasi radio dan telepon seluler belum cukup menjamin keselamatan pelayaran, khususnya bagi armada speedboat yang melayani rute wisata.
Penilaian tersebut sejalan dengan rencana Dinas Perhubungan (Dishub) Berau memasang alat pemantau berbasis Global Positioning System (GPS) pada setiap armada speedboat wisata.
Petugas Kesyahbandaran KUPP Berau, Sukriadi, menjelaskan bahwa istilah GPS yang digunakan dalam rencana Dishub pada prinsipnya mengarah pada fungsi pemantauan posisi kapal. Dalam praktik pelayaran, fungsi tersebut lebih optimal dilakukan melalui Automatic Identification System (AIS).
“Sebenarnya itu bukan GPS, tapi namanya AIS. Mungkin dari Dishub mengartikan itu sebagai GPS. AIS ini justru lebih bagus karena bisa langsung terpantau di sistem kami,” kata Sukriadi, Kamis (8/1/2026).
Pola pengawasan manual yang selama ini diterapkan pada armada speedboat memiliki keterbatasan, terutama saat terjadi kondisi darurat yang membutuhkan informasi posisi kapal secara cepat dan akurat.
“Kalau hanya mengandalkan radio dan by phone, itu sebenarnya tidak aman. Sistem seperti itu tidak menjangkau semuanya,” ujarnya.
Ia menambahkan, sistem pengawasan yang lebih ideal untuk diterapkan pada armada speedboat adalah AIS, yakni perangkat pemantau berbasis satelit yang memungkinkan pergerakan kapal terpantau secara langsung dari pusat kendali.
Melalui AIS, pergerakan kapal dapat dipantau langsung melalui layar Marine Control Center (MCC) milik KUPP. Sistem tersebut memungkinkan petugas mengetahui posisi kapal, arah pergerakan, hingga aktivitas kapal di suatu wilayah perairan.
“Kalau AIS terpasang, pergerakan kapal ke mana pun bisa kami pantau dari MCC. Kapal ada di posisi mana dan sedang melakukan apa itu bisa terlihat,” kata Sukriadi.
Ia mengungkapkan, rencana pemasangan AIS pada speedboat di Berau sejatinya bukan wacana baru. Usulan tersebut telah disampaikan kepada Bupati Berau, sejak tahun lalu. Namun hingga kini, sistem tersebut belum dapat diterapkan pada armada speedboat, terutama yang melayani rute menuju destinasi wisata unggulan seperti Pulau Maratua dan Kepulauan Derawan. (MAULIDIA AZWINI)












