Pasar Subuh di area parkir belakang Pasar Sanggam Adji Dilayas disebut Menjad Sumber Masalah

Kegiatan pasar subuh di area parkir belakang Pasar SAD Kabupaten Berau. (Azwini/Disway Kaltim)

AKTIVITAS pasar subuh di area parkir belakang Pasar Sanggam Adji Dilayas, Kabupaten Berau, disebut menjadi akar utama berbagai persoalan yang hingga kini belum terselesaikan. Kepala UPT Pasar Sanggam Adji Dilayas, Syaidinoor, mengungkapkan bahwa 70 persen permasalahan di pasar tersebut dipicu oleh aktivitas pasar subuh yang kerap tidak berjalan sesuai aturan.

Menurutnya, berbagai persoalan yang muncul tidak hanya berkaitan dengan ketertiban, tetapi juga berdampak luas pada aktivitas ekonomi dan kenyamanan lingkungan pasar.

“Mulai dari kecemburuan pedagang, banyaknya lapak kosong di dalam pasar, hingga kemacetan arus kendaraan, itu semua terjadi karena aktivitas pasar subuh yang tidak tertib,” tuturnya, Kamis (26/2/2026).

Secara aturan, jam operasional pasar subuh telah dibatasi mulai pukul 02.00 hingga 07.00 Wita sesuai Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 14 Tahun 2012. Namun dalam praktiknya, banyak pedagang masih berjualan hingga pukul 09.00 Wita.

Kondisi tersebut seringkali memicu kecemburuan dari pedagang di dalam pasar induk yang merasa dirugikan. Pasalnya, ketika aktivitas pasar subuh berlangsung lebih lama, pembeli cenderung bertransaksi di luar sehingga aktivitas jual beli di dalam pasar menjadi sepi. Ia menyebut, fenomena ini juga berdampak pada menurunnya tingkat hunian lapak di dalam pasar. Tidak sedikit pedagang yang memilih beralih ke pasar subuh karena dinilai lebih ramai pembeli.

“Kalau jamnya molor, pembeli tidak masuk ke dalam. Akibatnya banyak lapak kosong karena pedagang pindah ke pasar subuh. Retribusi juga jadi tidak terbayar,” jelasnya.

Di sisi lain, keberadaan pasar subuh yang awalnya diperuntukkan bagi petani untuk menjual hasil panen pada dini hari, kini mengalami pergeseran fungsi. Pasar subuh tidak lagi didominasi petani, melainkan diisi oleh berbagai jenis pedagang umum.

Syaidinoor mengaku, upaya penertiban yang dilakukan pihaknya di lapangan kerap memicu gesekan dengan pedagang. Bahkan, tidak jarang terjadi keributan saat petugas mengingatkan pedagang untuk mematuhi jam operasional.

“Ini menjadi dilema bagi kami. Kalau kami tegas, sering terjadi keributan. Tapi kalau dibiarkan, dampaknya luas. Ini seperti buah simalakama,” pungkasnya. (MAULIDIA AZWINI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *