Pakan Ikan Tembus Rp400 Ribu per Karung, Pembdidaya Putar Otak

Keramba apung yang berada di aliran Sungai Segah, Kabupaten Berau. (Maulidia Azwini/Disway Kaltim)

KABUPATEN Berau dikenal sebagai salah satu daerah dengan potensi perikanannya. Namun dibalik capaian tersebut, pembudidaya ikan keramba masih menghadapi persoalan mendasar, yakni tingginya harga pakan pabrikan. Saat ini, harga pakan ukuran 30 kilogram telah melampaui Rp400 ribu per karung. Kondisi itu dinilai memberatkan karena pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha budidaya.

Kepala Seksi Pengembangan Kawasan, Dinas Perikanan Kabupaten Berau, Budiono mengatakan, pengembangan budidaya ikan tawar memang menjadi salah satu fokus pemerintah daerah, meski di lapangan, pembudidaya masih dibayangi tingginya biaya produksi.

“Potensinya besar dan terus kita dorong. Tetapi memang, persoalan harga pakan ini yang paling sering dikeluhkan pembudidaya,” ujarnya, Jumat (20/2/2026).

Menurut Budiono, kenaikan harga pakan paling berat dirasakan pembudidaya bermodal terbatas. Ketika biaya produksi meningkat sementara harga jual ikan stagnan, keuntungan yang diperoleh semakin menipis dan berisiko mengganggu keberlangsungan usaha.

Untuk menyiasati kondisi tersebut, sejumlah pembudidaya mulai memanfaatkan pakan alternatif. Salah satunya dengan menggunakan bahan dari sisa makanan warung maupun produk makanan kedaluwarsa yang masih dapat diolah kembali.

“Sekarang sudah banyak yang pakai pakan alternatif. Biasanya dari sisa makanan warung atau kue yang sudah kedaluwarsa tapi masih bisa diolah. Itu dimanfaatkan supaya biaya produksi bisa ditekan,” jelasnya.

Budiono menilai langkah tersebut sebagai bentuk adaptasi pembudidaya di tengah tekanan biaya. Ia mengakui pakan alternatif belum sepenuhnya mampu menggantikan pakan pabrikan, terutama dari sisi kandungan nutrisi dan konsistensi kualitas.

Di sisi lain, pemerintah daerah telah memberikan dukungan melalui bantuan pakan dan benih ikan kepada kelompok pembudidaya. Akan tetapi, bantuan itu bersifat terbatas dan tidak disalurkan secara rutin setiap tahun.

“Kami membantu melalui kelompok dan sifatnya tidak terus-menerus. Harapannya, setelah mendapat bantuan, pembudidaya bisa lebih mandiri dalam mengelola usahanya,” kata Budiono. (MAULIDIA AZWINI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *