Ketimpangan Kelas makin Jauh

Deflasi Masih Terus Berlangsung

Fenomena deflasi beruntun yang melanda dunia perekonomian Indonesia saat ini tengah menjadi perhatian dari berbagai kalangan, baik pengamat ekonomi, pelaku bisnis, maupun masyarakat umum. 

Menurut sejumlah pengamat ekonomi, penyebab dari fenomena deflasi ini berturut-turut ini kemungkinan besar disebabkan oleh melemahnya daya beli masyarakat, terutama bagi mereka yang berasal dari kelas menengah.

Namun menurut keterangan Ekonom sekaligus Dosen Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta, Achmad Nur Hidayat, deflasi ini lebih dari sekedar penurunan konsumsi masyarakat.

Menurutnya, deflasi ini juga menjadi penanda dari adanya ketimpangan ekonomi yang semakin menganga.

“Meski terjadi deflasi, konsumsi kelompok atas tetap stabil, bahkan lebih fokus pada kebutuhan tersier. Artinya, alih-alih mengurangi konsumsi, mereka yang berada di lapisan atas justru tetap membelanjakan uang mereka, tetapi untuk barang-barang yang bersifat mewah atau hiburan,” jelas Achmad saat dihubungi oleh Disway pada Selasa 1 Oktober 2024.

Di sisi lain, Achmad melanjutkan, kelas menengah bawah yang daya belinya terus tergerus oleh berbagai faktor seperti inflasi, pengangguran, dan ketidakpastian ekonomi menjadi golongan yang paling mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Apalagi untuk memenuhi konsumsi barang tersier.

“Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan yang sangat nyata dalam distribusi pendapatan di masyarakat. Kelas atas tetap berbelanja, tetapi kebutuhan mereka berbeda dengan masyarakat bawah. Barang-barang seperti elektronik canggih, produk fesyen premium, atau liburan mewah masih menjadi pilihan utama konsumsi mereka,” pungkasnya.

Hal ini tentu tidak terjadi di kelas menengah bawah, yang justru berfokus pada bagaimana mereka bisa memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal, dan biaya pendidikan. Dalam jangka panjang, ketimpangan yang semakin tajam ini bisa berdampak buruk pada stabilitas sosial.

Sejarah membuktikan bahwa kesenjangan yang tidak tertangani dapat memicu ketidakpuasan sosial yang lebih besar, berujung pada masalah-masalah sosial seperti meningkatnya kriminalitas atau konflik horizontal.

Deflasi beruntun hingga kini masih melanda dunia perekonomian Indonesia. Bahkan, diperkirakan akan berlanjut hingga Oktober 2024 ini.

Namun, fenomena deflasi ini rupanya tidak selalu disebabkan oleh penurunan daya beli saja, namun juga karena perubahan dalam pola belanja masyarakat.

Fenomena perubahan pola berbelanja ini sendiri diketahui paling banyak terjadi di kalangan generasi muda, dimana generasi muda lebih memilih untuk memenuhi  kebutuhan tersier mereka dibandingkan dengan kebutuhan primer mereka.

“Kita tidak bisa menyimpulkan semuanya disebabkan karena daya beli masyarakat menurun, sedangkan orang nonton konser aja banyak begitu,” ujar Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, dalam keterangan tertulis resminya pada Senin 30 September 2024.(disway.id/arie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *