Kerap ditabrak, Jembatan Mahakam Dipasangi Sensor Maupun Lampu Suar

Pemasangan lampu suar di Jembatan Mahakam oleh Pelindo. (dok.Pelindo/IST)

Kerap ditabrak, Jembatan Mahakam dipasangi sensor maupun lampu suar sebagai pengaman serta peringatan untuk kapal-kapal tongkang.

——————-

PT Pelindo Jasa Maritim (SPJM) memperkuat sistem keselamatan pelayaran di perairan Sungai Mahakam, dengan memasang lampu suar navigasi dan sensor pemantau kondisi perairan di sekitar Jembatan Mahakam. Langkah ini dilakukan untuk menekan risiko insiden tabrakan kapal tongkang yang kerap terjadi saat melintasi kolong jembatan.

Direktur Operasi dan Teknik SPJM, Edward Danner Pardamean Napitupulu, menjelaskan pemasangan sistem suar navigasi atau Port Entry Light (PEL) ditujukan sebagai pemandu visual bagi kapal yang memasuki alur pelayaran, terutama pada malam hari maupun ketika jarak pandang terbatas akibat cuaca.

Teknologi tersebut lazim digunakan di pelabuhan internasional dengan lalu lintas kapal padat untuk menandai jalur aman sekaligus memperjelas titik rawan. Di Sungai Mahakam, karakteristik alur yang sempit dengan arus dinamis menuntut ketelitian tinggi dari nakhoda dan perwira pandu.

“Lampu ini menjadi standar keamanan penting untuk memandu kapal memasuki pelabuhan dengan aman, baik siang maupun malam. Karakteristik pemanduan kolong jembatan di Sungai Mahakam cukup menantang,”ujar Edward, Kamis (5/3/2026).

Ia menuturkan, kehadiran PEL di sekitar kolong jembatan membantu nakhoda menentukan posisi alur secara presisi sebelum memasuki ruang terbatas di bawah struktur jembatan. Panduan visual yang jelas mengurangi potensi salah perhitungan jarak terhadap pilar, terutama saat membawa muatan besar dengan daya manuver terbatas.

Selain lampu navigasi, SPJM sejak Januari 2026 mengintegrasikan sistem sensor monitoring perairan di sekitar Jembatan Mahakam dan Jembatan Mahulu. Sensor tersebut mampu merekam data kecepatan arus sungai serta mengukur jarak antara permukaan air dan struktur bawah jembatan secara real time.

Data tersebut dinilai krusial mengingat tinggi muka air Sungai Mahakam berubah mengikuti pasang surut dan intensitas hujan di wilayah hulu. Perubahan beberapa sentimeter saja dapat berpengaruh terhadap ruang bebas kapal yang melintas.

Di stasiun pandu dekat Jembatan Mahulu juga dipasang sensor ketinggian muatan kapal. Perangkat ini berfungsi mendeteksi tinggi tongkang atau kapal sebelum memasuki kolong jembatan, sehingga petugas dapat memastikan jarak aman terpenuhi.

“Seluruh sensor terhubung dalam sistem monitoring jembatan yang menyajikan informasi aktual setiap satu menit. Data ini dapat diakses petugas pandu untuk membantu proses pengambilan keputusan di lapangan,”jelas Edward.

Menurutnya, integrasi lampu suar dan sensor pemantau menciptakan sistem peringatan dini yang lebih komprehensif. Nakhoda memperoleh panduan visual dari lampu navigasi, sementara petugas pandu memantau data teknis seperti arus dan ketinggian air sebelum memberi rekomendasi manuver.

Upaya tersebut juga menjadi bagian dari evaluasi berkelanjutan atas sejumlah insiden kapal yang pernah menyenggol pilar jembatan di perairan Mahakam. Aktivitas angkutan batu bara dan logistik yang tinggi membuat jalur sungai ini termasuk yang tersibuk di Kalimantan Timur.

Edward menegaskan, peningkatan sistem keselamatan tidak hanya berorientasi pada perlindungan infrastruktur jembatan, tetapi juga keselamatan awak kapal dan kelancaran distribusi barang. Gangguan pada satu titik dapat berdampak luas terhadap arus logistik dan mobilitas masyarakat.

“Keselamatan berlayar menjadi tujuan utama. SPJM berkomitmen melakukan perbaikan berkelanjutan agar pelayaran di perairan Mahakam berlangsung selamat, tertib, dan lancar,”pungkasnya. (MAYANG/ARIE)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *