Kapal Gratis Hanyut, Sekolah Terhambat

Pemkab Berau Sudah Anggarkan Bangun Jembatan

 Anak-anak Kampung Muara Lesan yang hendak pergi ke sekolah dengan menyeberangi sungai menggunakan kapal kayu.-ardin for Disway Kaltim-

Kampung Muara Lesan, Kecamatan Kelay seolah terisolir, anak-anak yang ingin bersekolah di kampung tersebut terhambat. Kapal feri kayu yang biasa digunakan sebagai angkutan, manusia maupun kendaraan tak dapat menyeberangi sungai, karena hanyut pasca banjir beberapa waktu lalu.

TERDAPAT Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kampung Muara Lesan, anak-anak di 3 kampung sekitarnya yakni Panaan, Merapun dan Merabu, kesulitan untuk pergi ke sekolah. Jumlahnya mencapai sekira 60 persen dari total siswa di kedua sekolah.

Kapal feri kayu itu, merupakan akses atau transportasi satu-satunya yang biasa digunakan, apalagi tak terdapat jembatan. Bagi anak-anak bersekolah, transportasi itupun gratis. Dampaknya, semenjak kapal hanyut, anak-anak harus menggunakan alternatif perahu kecil milik warga, dan dikenakan biaya.

Warga, yang juga guru SDN 001 Kampung Muara Lesan, James Edwin mengaku, penyeberangan ini merupakan transportasi utama, anak-anak menimba ilmu di SDN 001 Muara Lesan. Akibat banjir yang terjadi beberapa waktu lalu, kapal kayu yang biasa digunakan hanyut terbawa arus deras Sungai Kelay.

“Sempat anak-anak tidak bisa pergi ke sekolah untuk belajar,” kata Edwin, Rabu (9/4/2025).

Lanjutnya, anak-anak  SD dan SMP yang terdampak sekitar 60 persen, yang merupakan anak-anak dari orangtua yang bekerja di perusahaan Kampung Panaan. “Ketika ada kapal itu untuk anak sekolah gratis. Alternatif lain menggunakan ketinting warga,” tuturnya.

Edwin berharap, pemerintah kampung dan perusahaan dapat mencari solusi atas persoalan yang terjadi.

Kepala Kampung Muara Lesan, Jamrah mengaku sudah mendapatkan informasi dan membenarkan kejadian tersebut, tapi saat dirinya sedang di luar daerah.

Diungkapkannya, bahwa kapal kayu besar yang hanyut tersebut milik pribadi warga.

Pemerintah kampung, sedang mencari solusi, namun, dirinya tidak ingin memutus usaha warga, karena itu merupakan satu-satunya yang ada. Sehingga, dirinya masih akan berkoordinasi kepada warga dan juga perusahaan.

“Kami dari pemerintah ini masih menunggu, saya tidak ingin tumpang tindis. Kalau itu diminta pemerintah, pemerintah kampung untuk yang menindaklanjuti, ditindaklanjuti. Atau mereka ingin melanjutkan usahanya atau masalah ini diserahkan oleh pemerintah kampung,” ujarnya.

Memang, diakuinya, kapal penyeberangan tersebut sebelumnya berbayar. Namun, untuk anak sekolah gratis.

Jamrah mengingatkan, kepada masyarakat untuk tidak panik terkait hal itu. Karena, memurutnya, ini hanya kendala beberapa waktu. “Kita semacam panik, gitu. Sebenarnya, kalau saya jujur, tidak perlu panik,” ucapnya.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau, melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Berau, telah menyiapkan anggaran sekitar Rp160 miliar untuk pembangunan infrastruktur jalan di Kecamatan Kelay pada tahun 2025.

Kepala Bidang Preservasi Jalan dan Jembatan DPUPR Berau, Junaidi, menjelaskan bahwa proyek ini telah dimasukkan dalam Rencana Kerja (Renja) DPUPR. Salah satu prioritasnya adalah membangun jembatan di Kampung Muara Lesan pada tahun 2025 ini, dengan anggaran Rp17,2 miliar.

“Pembangunan jembatan ini menjadi bagian penting dalam interkoneksi antar wilayah, agar akses masyarakat semakin mudah dan lancar,” jelasnya.

Selain itu, DPUPR juga melakukan peningkatan akses antar-kecamatan, di antaranya pembangunan Jalan Poros Kampung Merabu dengan alokasi anggaran Rp11 miliar, serta peningkatan akses di Jalan Poros Kampung Panaan, Jalan Kampung Merapun Ujung, Jalan Merabu-Panaan, dan jalan penghubung lingkar luar Kecamatan Kelay.

“Saat ini, kami sedang melanjutkan pembangunan Jalan Poros Kelay lingkar luar yang menghubungkan Kampung Merasa dan Kampung Muara Lesan. Tahun ini merupakan tahun ketiga dari proyek ini, dengan anggaran sekitar Rp33 miliar,” bebernya.

Junaidi menjelaskan, jalur lingkar luar tersebut akan menghubungkan beberapa wilayah, mulai dari Kampung Tumbit Dayak di Kecamatan Teluk Bayur, Kampung Long Lanuk di Kecamatan Sambaliung, hingga Kampung Merasa, Muara Lesan, dan Merapun di Kecamatan Kelay.

Mengingat besarnya anggaran yang diperlukan, pembangunan jalan poros lingkar luar dilakukan secara bertahap dengan total kebutuhan dana sekitar Rp 60 miliar. DPUPR menargetkan proyek ini dapat selesai dalam waktu dua tahun, sehingga akses antar wilayah semakin terhubung.

“Semua pekerjaan yang akan dilakukan di Kecamatan Kelay sudah masuk dalam alokasi anggaran,” imbuhnya.

Untuk tahun 2025, DPUPR Berau juga akan melanjutkan peningkatan jalan di beberapa titik, termasuk Jalan Poros Kampung Mapulu, Kampung Merasa, Muara Lesan, Merapun, Merabu, dan Panaan.

“Selain itu, anggaran Rp19 miliar telah disiapkan untuk rehabilitasi Jalan Poros Batu Rajang hingga Long Lomcin,” pungkasnya. (RIZAL/ARIE)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *