Dianggap Memiliki Kualitas Lebih Baik, Ade Ingatkan Warga Waspada Bahaya Gula Putih Rafinasi

PILIHAN masyarakat terhadap bahan pangan masih banyak ditentukan oleh tampilan visual. Kondisi ini terlihat jelas pada pola konsumsi gula di Kabupaten Berau, di mana gula berwarna putih cerah masih mendominasi peredaran di pasaran.

Gula dengan tampilan putih bersih umumnya merupakan gula rafinasi. Produk ini mudah ditemukan di pasar tradisional hingga ritel modern dan kerap dianggap memiliki kualitas lebih baik dibanding gula tebu murni, meskipun proses pengolahannya justru lebih panjang.

, Ade Anggoro, mengungkapkan bahwa sebagian besar gula yang beredar di pasaran saat ini merupakan gula rafinasi. Berbeda dengan gula tebu murni yang disalurkan Bulog, gula rafinasi telah melalui proses pengolahan lanjutan dan tidak berasal dari tebu murni secara utuh.

“Masalahnya, masyarakat di Berau itu mayoritas memilih gula rafinasi karena tertarik warnanya yang putih bersih, padahal itu sebenarnya bukan gula murni,” ujar Ade, Senin (26/1/2026).

Ia menjelaskan, gula tebu murni diproduksi langsung dari tebu tanpa melalui proses pemurnian kimia lanjutan. Sementara gula rafinasi diolah kembali sehingga tampilannya lebih cerah dan menarik secara visual, namun kandungannya telah mengalami perubahan. Ironisnya, dari sisi harga, gula rafinasi justru dijual lebih mahal dibanding gula tebu murni. Meski demikian, selisih harga tersebut tidak menjadi pertimbangan utama konsumen.

“Perbedaan harganya sebenarnya tidak jauh, bahkan rafinasi lebih mahal. Tapi masyarakat tetap memilih karena faktor warna,” kata Ade.

Menurutnya, fenomena ini menunjukkan bahwa pertimbangan nilai gizi dan dampak konsumsi jangka panjang masih belum menjadi perhatian utama. Aspek visual kerap lebih dominan dibanding kualitas dan kandungan produk. Padahal, tingkat kemanisan gula tebu murni dinilai lebih kuat sehingga penggunaannya lebih efisien. Keunggulan tersebut, kata Ade, sering kali terabaikan.

“Kalau dipikir-pikir, gula yang warnanya putih itu justru banyak campurannya. Soal manis juga beda, gula tebu murni satu sendoik saja sudahg terasa, sementara yang rafinasi bisa sampai dua sendok,” pungkasnya. (MAULIDIA AZWINI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *