DINAS Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Berau mencatat ada 281 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) sejak Januari hingga April 2024.
Kepala Dinkes Berau, Lamlay Sarie melalui Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Berau, Garna Sudarsono menyebut, DBD di Kabupaten Berau masih menjadi salah satu penyakit yang wajib diwaspadai.
“Dari 281 kasus ini, ada satu orang meninggal dunia,” ungkapnya, Kamis (4/7/2024).
Diketahui, berdasarkan data Dinkes Berau, kasus DBD tertinggi ada di Puskesmas Kelurahan Bugis sebanyak 51 kasus dan 1 kasus yang menyebabkan kematian.
“Kemudian di Puskesmas Biatan Lempake ada 49 kasus. Dan di Puskesmas Suaran sebanyak 30 kasus,” bebernya.
Meski bertambah, menurut Garna, tidak ada kenaikan jumlah kasus DBD yang signifikan, masih tergolong aman dan terkendali.
“Meskipun masih terkendali, masyarakat tetap harus waspada,” ujarnya.
Untuk itu, Garna meminta masyarakat harus menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal dan sekitarnya, khususnya genangan air yang dapat menjadi tempat bersarang nyamuk penyebab DBD Aedes Aegypti.
“Itu bisa menjadi salah satu upaya agar terhindar dari penyakit ini. Selain itu, masyarakat juga harus selalu menjaga kesehatan, karena cuaca tidak menentu,” katanya.
Dikatakannya, pihaknya juga melakukan pencegahan hingga ke kampung-kampung dengan memberikan edukasi dan sosialisasi pencegahan penyakit DBD.
“Karena untuk pencegahan, dimulai dari diri sendiri dan lingkungan tempat tinggal masing-masing,” tandasnya.
Sebagai informasi, Kementerian Kesehatan terus mensosialisasikan berbagai upaya yang dilakukan untuk mencegah merebaknya wabah DBD. Salah satu caranya adalah dengan melakukan 3M Plus.
Menguras tempat yang sering menjadi penampungan air seperti bak mandi, kendi, toren air, drum dan tempat penampungan air lainnya. Dinding bak maupun penampungan air juga harus digosok untuk membersihkan dan membuang telur nyamuk yang menempel erat pada dinding tersebut. Saat musim hujan maupun pancaroba, kegiatan ini harus dilakukan setiap hari untuk memutus siklus hidup nyamuk yang dapat bertahan di tempat kering selama 6 bulan.
Menutup, merupakan kegiatan menutup rapat tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi maupun drum. Menutup juga dapat diartikan sebagai kegiatan mengubur barang bekas di dalam tanah agar tidak membuat lingkungan semakin kotor dan dapat berpotensi menjadi sarang nyamuk.
Memanfaatkan kembali limbah barang bekas yang bernilai ekonomis (daur ulang), kita juga disarankan untuk memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang-barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk demam berdarah.
Yang dimaksudkan Plus-nya adalah bentuk upaya pencegahan tambahan seperti memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, menggunakan obat anti nyamuk, memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi, gotong royong membersihkan lingkungan, periksa tempat-tempat penampungan air, meletakkan pakaian bekas pakai dalam wadah tertutup, memberikan larvasida pada penampungan air yang susah dikuras, memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancer, dan menanam tanaman pengusir nyamuk. (ADVERTORIAL/RIZAL)












