BEBERAPA hari terakhir Kabupaten Berau sering terjadi pemadaman listrik bergilir. Pemadam terjadi akibat pemeliharaan mesin pembangkit listrik di PLTU Lati dan Teluk Bayur, sehingga terjadi penurunan daya mampu pada sistem kelistrikan Tanjung Redeb.
Manager PLN UP3 Berau, Rizki Rhamdan Yusup mengatakan, saat pemeliharaan berlangsung, juga terjadi ledakan pada kubikel listrik di PLTD Sambaliung yang menyebabkan pemadaman semakin meluas. Ledakan tersebut terjadi pukul 21.00 Wita, dimana, 3 tim PLN Berau dikerahkan menuju lokasi untuk memeriksa seberapa besar kerusakan dan melakukan percepatan perbaikan.
“Alhamdulillah tim PLN berhasil memulihkan sistem kelistrikan 100 persen pada pukul 03.00 Wita, Rabu (18/9/2024),” ujarnya.
Perbaikan memerlukan waktu cukup lama, pasalnya pihak PLN memerlukan waktu untuk melihat di mana titik-titik kerusakan. Apalagi areanya tertutup di sebuah panel dan kabel yang digunakan tertanam di bawah tanah.
“Jadi untuk melakukan perbaikan itu butuh effort, beda halnya ketika tiang listrik yang roboh, akan lebih mudah karena di area terbuka,” jelasnya.
Kemudian, pihaknya akan mengkoordinasikan kembali kepada tenaga pembangkit yang ada di Kabupaten Berau agar penormalan kelistrikan dapat dipercepat.
“Untuk pemeliharaan memang tidak bisa dihindari karena mesin ada jam operasi, dan ada saatnya kita melakukan pemeliharaan,” ucapnya.
Ia mengatakan, Kabupaten Berau mempunyai empat pembangkit listrik, diantaranya adalah PLTU Lati, PLTU Teluk Bayur, PLTD Sambaliung dan PLTD Teluk Bayur. Selain itu juga terdapat suplai dari Tanjung Selor yang memperkuat sistem kelistrikan di Kabupaten Berau.
Untuk daya mampu kelistrikan di Kabupaten Berau, sebesar 41 megawatt. Hal itu apabila keempat mesin pembangkit listrik di Berau dalam kondisi normal. Adapun untuk beban puncaknya yaitu 38 megawat.
“Daya mampu Berau 41 megawat ketika normal semua,” bebernya.
Atas gangguan listrik yang terjadi, ratusan masyarakat sempat menggeruduk kantor PLN Berau. Warga yang geram kemudian melakukan aksi bakar ban dan merusak sejumlah fasilitas yang ada di kantor tersebut seperti papan pemberitahuan dan kaca jendela bangunan.
Berdasarkan pantauan Disway Kaltim, sempat terjadi aksi saling dorong antara masyarakat dan petugas polisi yang berjaga di depan pintu masuk.
Koordinator aksi, Ayat mengatakan, masyarakat menuntut kompensasi dari PLN atas kerusakan barang elektronik maupun kerugian lainnya yang disebabkan oleh pemadaman listrik.
“Masyarakat sudah membayar, mereka menuntut hak sebagai konsumen,” tegasnya.
Masyarakat akhirnya membubarkan diri dengan tertib sekira pukul 03.10 Wita karena listrik sudah Kembali menyala.
Terpisah, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Purwadi memberi tanggapan terkait pasokan tenaga listrik di Kabupaten Berau yang tidak maksimal.
Menurutnya, PLN Berau tidak maksimal dalam mengatasi permasalahan listrik di Berau. Dimana, manajemen tata kelola maintenance PLN Berau tidak profesional dalam mengelola waktu. Menurutnya, PLN Berau harus memiliki mesin pembangkit listrik cadangan guna mengantisipasi terjadinya trouble pada mesin serta maintenance yang bertabrakan.
“Kita bayar kepada PLN tidak boleh ngutang loh, jadi sangat tidak masuk akal kalau pelayanannya ke publik jelek,” tegasnya.
Apalagi, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Berau mencapai Rp 5 triliun hampir setara dengan Kota Samarinda, bahkan Berau juga memiliki pertambangan batubara yang cukup besar. Sehingga dirinya sangat menyangkan ketersediaan listrik di Kabupaten Berau tidak maksimal.
Selain itu, permasalahan listrik di Kabupaten Berau juga menyebabkan ekonomi masyarakat menurun, apalagi kepada pelaku-pelaku usaha yang sangat memerlukan listrik.
“Subsidi listrik tarifnya tidak pernah turun selalu naik tiap tahunnya. Tetapi tidak diikuti dengan publik service yang memadai,” pungkasnya. (SAHRUDDIN)












