BUDIDAYA cokelat (kakao) di Berau berkembang pesat sebagai penggerak ekonomi baru melalui skema perhutanan sosial dan pemberdayaan petani, terutama di wilayah Kecamatan Kelay, Segah, Sambaliung, dan Teluk Bayur.
Kepala Dinas Perkebunan Berau, Lita Handini mengatakan, lahan-lahan kosong di berbagai wilayah akan dioptimalkan untuk ditanami cokelat tanpa mengganggu komoditas utama lain seperti kelapa sawit. Dalam upaya ini, peran pihak ketiga dan dunia usaha juga dinilai sangat penting.
“Di Berau telah berdiri pabrik cokelat yang mampu memproduksi cokelat berstandar internasional,” kata Lita, Kamis (5/2/2026).
Ia mengungkapkan, produk cokelat tersebut bahkan telah diekspor ke Swiss, Belgia, dan Jerman, serta kini mulai diminati oleh pasar Prancis dan Belanda. Ini membuktikan kualitas cokelat Berau telah memenuhi standar global.
“Kami mengajak para petani untuk memanfaatkan lahan kosong guna menanam cokelat dan kelapa dalam,” bebernya.
Menurutnya, langkah ini akan memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat. Dengan pengembangan sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), ekonomi kreatif, pertanian cokelat, dan kelapa, Kabupaten Berau kini memiliki fondasi ekonomi yang semakin kokoh.
“Berau tidak hanya unggul di sektor pariwisata, tetapi juga siap bersaing di level internasional melalui produk unggulan daerah,” tegasnya.
Lita menjelaskan, biji kakao Berau memiliki karakteristik unik dengan sentuhan rasa masam atau fruity. Produksi biji kakao kering mencapai puluhan ton dan ditargetkan meningkat tajam hingga 3.000 ton per tahun di 2028.
Ia menegaskan, Pemkab Berau berkomitmen mendukung penuh pengembangan kakao Berau sebagai salah satu sektor unggulan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). (RIZAL)












