Pemerintah Kabupaten Bulungan mencatat tren penurunan prevalensi stunting. Data pada 2024, angka stunting di Bulungan berada di kisaran 15 persen. Lebih rendah dari rata-rata nasional yang sebesar 19,98 persen.
Bupati Bulungan, Syarwani, mengatakan capaian tersebut merupakan hasil dari upaya bersama yang dilakukan secara berkelanjutan sejak 2022, melalui berbagai program intervensi kesehatan dan gizi.
“Kalau kita berpatok pada angka nasional 19,98 persen, posisi Bulungan sampai 2024 berada di angka 15 sekian persen,” ujar Syarwani, usai Pra Musrenbang Kabupaten Bulungan Tematik Stunting, Senin (30/3/2026).
Berdasarkan pemantauan melalui aplikasi elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (EPPGBM), prevalensi stunting di Bulungan tercatat turun dari 17,87 persen pada 2021 menjadi 8,23 persen pada 2024.
Sementara itu, dalam rilis nasional terakhir, yang digunakan sebagai pembanding antardaerah, angka stunting Bulungan masih berada di kisaran 15 persen.
“Angka 15 persen itu harus kita turunkan lagi. Karena target jangka panjang kita adalah menekan stunting serendah mungkin,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti masih tingginya angka pernikahan usia dini di sejumlah wilayah, sebagai salah satu faktor yang berpotensi meningkatkan risiko stunting.
Pernikahan pada usia muda dinilai berkaitan dengan kesiapan kesehatan reproduksi dan pengetahuan gizi calon orang tua.
Menurutnya, edukasi kepada remaja, calon pengantin, serta keluarga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan stunting, selain intervensi pada masa kehamilan dan setelah anak lahir.
Karena itu, pemerintah daerah mendorong keterlibatan lintas sektor, mulai dari tenaga kesehatan, satuan pendidikan, hingga tokoh masyarakat dan lembaga keagamaan, untuk memberikan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi dan perencanaan keluarga. (Muhammad Efendi)












