ADK Terpangkas 55 Persen

DMPK Ajak Kampung Perkuat Sumber Pendapatan Mandiri

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung (DPMK) Berau, Tenteram Rahayu. (AZWINI/DISWAY KALTIM)

PEMERINTAH Kabupaten Berau meminta setiap kampung untuk bersiap menghadapi penurunan transfer anggaran pada 2026 mendatang. Total ADK Berau pada 2026 dipastikan hanya mencapai Rp 145 miliar. Angka tersebut turun signifikan dibandingkan tahun 2025 yang berada di kisaran Rp 320 miliar.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung (DPMK) Berau, Tenteram Rahayu mengatakan, penyesuaian anggaran tidak terlepas dari kondisi fiskal daerah dan kebijakan penghematan yang diterapkan pemerintah pusat. Konsekuensinya, kampung dituntut lebih adaptif dalam menyusun prioritas pembangunan.

“Kampung perlu mulai serius mengelola potensi dan aset yang dimiliki agar tidak bergantung penuh pada dana transfer,” kata Tenteram.

Meski ADK mengalami penurunan, sejumlah bantuan keuangan lainnya masih tetap dialokasikan. Seperti halnya bantuan untuk rukun tetangga (RT) dipertahankan sebesar Rp 50 juta per RT, PKK Rp 20 juta, serta Karang Taruna Rp 5 juta. Selain itu, kampung juga masih menerima dana bagi hasil pajak sebesar Rp 11,25 miliar dan dana bagi hasil retribusi sekitar Rp 1,75 miliar.

Di sisi lain, dana desa yang bersumber dari APBN juga diproyeksikan ikut menyusut. Jika pada 2025 nilainya mencapai Rp 101 miliar, maka pada 2026 mendatang diperkirakan turun menjadi sekitar Rp 80 miliar.

“Yang terpenting kegiatan sosial harus tetap terakomodasi. Tapi kalau untuk pembangunan fisik, mau tidak mau pasti ada pengurangan,” ujarnya.

Penurunan transfer ke kampung turut berdampak pada penataan ulang sejumlah program, kegiatan yang sebelumnya memperoleh alokasi besar berpotensi mengalami pemangkasan. Sebagai contoh, anggaran kegiatan peringatan hari jadi kampung, keagaman, atau olahraga yang sebelumnya bisa mencapai Rp 100 juta, pada 2026 kemungkinan hanya dialokasikan sebesar Rp50 juta. Selain itu, belanja perjalanan dinas ke luar daerah juga dipastikan akan ditekan.

Kendati demikian, Tentram menilai keterbatasan anggaran seharusnya dimaknai sebagai momentum untuk berinovasi. Menurutnya, banyak kampung di Berau memiliki potensi ekonomi yang belum digarap optimal, mulai dari aset lahan, sektor pertanian dan perkebunan, hingga peternakan dan perikanan. (MAULIDIA AZWINI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *