Penjaga Pesisir yang Terancam

Bekantan populasinya kian terancam karena habitat mereka yang menyusut-istimewa

Bekantan, primata endemik Kalimantan yang terkenal dengan hidung panjangnya, semakin terancam akibat menyusutnya hutan tempat tinggal mereka, terutama di Kalimantan Timur.

Menurut Tri Atmoko, peneliti primata dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bekantan sangat bergantung pada habitatnya.

“Fragmentasi habitat menjadi salah satu ancaman utama bagi bekantan. Ketika hutan mangrove dan riparian yang mereka tinggali semakin berkurang, populasi kecil bekantan pun terisolasi, yang akhirnya menurunkan daya tahan populasi mereka dan berisiko punah secara lokal,” jelasnya.

Kehidupan mereka di alam liar memiliki sistem sosial yang unik. Dalam satu kelompok, hanya ada satu pejantan dominan yang memimpin, sementara betina dan anak-anak bekantan hidup dalam struktur yang terorganisir.

Dalam sistem sosial bekantan, pejantan dengan hidung paling besar biasanya menjadi pemimpin kelompok. Bentuk hidung yang mencolok ini bukan sekadar ciri fisik, tetapi juga simbol dominasi.

“Semakin besar hidung bekantan jantan, semakin tinggi kemungkinan ia memiliki lebih banyak betina dalam kelompoknya. Hidung panjang ini menjadi tanda dari kesuburan dan kekuatan pejantan dalam mempertahankan posisinya,” ungkap Tri.

Bekantan juga memiliki kebiasaan unik dalam sistem pencernaannya. Perut mereka yang buncit bukan karena kelebihan makan, melainkan akibat pola makan mereka yang mirip dengan hewan memamah biak seperti sapi.

“Bekantan mengunyah makanannya dua kali untuk mencerna dedaunan yang menghasilkan banyak gas. Mereka memiliki lambung beruang-ruang yang memungkinkan pencernaan lebih efisien,” tambahnya.

Saat ini, populasi bekantan di Kalimantan Timur terus menurun. Salah satu contoh nyata adalah di Pesisir Babulu Laut, di mana hanya tersisa sekitar 27 individu yang menghuni 70 hektare area hutan tersisa.

Padahal, untuk menjaga keberlanjutan spesies ini, bekantan membutuhkan habitat yang luas dengan sumber makanan yang beragam.

“Idealnya, habitat bekantan tidak hanya terdiri dari hutan mangrove, tetapi juga hutan di belakangnya yang menyediakan sumber pakan tambahan,” kata Tri.

Sumber makanan utama bekantan terdiri dari lebih dari 188 jenis tumbuhan, bunga, buah mentah, dan sesekali serangga.

Salah satu jenis mangrove favoritnya adalah Sonneratia ovata, yang menjadi bagian penting dari ekosistem tempat mereka tinggal.

Namun, dengan semakin banyaknya pembukaan lahan dan kebakaran hutan, sumber makanan mereka pun semakin terbatas.

Selain itu, perubahan ekosistem juga membuat banyak bekantan harus bersaing dengan primata lain, seperti lutung kelabu dan monyet ekor panjang.

Ketika hutan semakin sempit, kompetisi untuk mendapatkan makanan dan tempat tinggal menjadi semakin ketat.

Menjaga keberlanjutan populasi bekantan bukan hanya tentang melindungi primata ini, tetapi juga memastikan keseimbangan ekosistem pesisir.

“Bekantan adalah spesies payung. Artinya, jika populasi mereka sehat, maka lingkungan di sekitarnya juga dalam kondisi baik,” jelas Tri.

Oleh karena itu, upaya konservasi bekantan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari perlindungan habitat, pengawasan perburuan liar, hingga rehabilitasi ekosistem mangrove.

Di tengah ancaman yang semakin besar, harapan untuk mempertahankan populasi bekantan tetap ada.

Dengan langkah-langkah perlindungan yang tepat, spesies ini masih bisa bertahan dan tetap menjadi ikon pesisir Kalimantan yang eksotis.Namun, tanpa tindakan nyata, monyet berhidung panjang ini bisa saja hanya tinggal sejarah.(gathan/arie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *