Dampak Tambang Ilegal?

Banjir di Kelurahan Bedungun, Kecamatan Tanjung Redeb, Kabupaten Berau. Yang diduga dampak dari penggalian batu bara yang diduga ilegal.

Hujan deras mengguyur Bumi Batiwakkal, beberapa hari terakhir. Meski sebentar, kawasan Kelurahan Bedungun tergenang air cukup parah. Dugaan karena dampak aktivitas tambang yang diduga tak berizin, meski proyek drainase belum lama selesai dikerjakan.

MENURUT Buhari, warga RT 03 Bedungun, banjir yang terjadi di Bedungun, diduga  karena aktivitas pertambangan batu bara yang kian masuk ke wilayah perkotaan.Bahkan, ada salah satu perusahaan tambang batu bara, dan tambang ilegal yang beroperasi di dekat wilayah tersebut.

“Perusahaan tersebut sudah dua tahunan beroperasi,” katanya.

Kurangnya daerah resapan, karena aktivitas penggalian batu bara tersebut lah yang menjadi penyebab air mengalir ke jalan raya, atau permukiman warga.

Kedalaman banjir yang terjadi belum lama ini hanya sebetis orang dewasa. Namun, banyak kendaraan yang tidak berani melewati atau menerobos karena arusnya sangat deras.”Kemarin saja ada ibu-ibu yang mencoba menerobos, karena arusnya deras jadi terjatuh,” ujarnya.

Beruntungnya genangan, tidak bertahan lama. Hanya saat hujan deras saja. Ketika hujan reda, banjir pun surut. “Kalau yang agak lama itu di daerah Kedaung, dari dulu itu di situ selalu banjir,” imbuhnya.

Menurutnya, selama tambang batu bara diduga ilegal masih aktif di Berau, banjir akan selalu terjadi, di kawasan tersebut. “Tidak bisa terbendung itu, karena sudah terlalu dekat dengan kota, apalagi tambang ilegal,” tuturnya.

Dirinya menilai, pemerintah tidak tegas mengatasi soal pertambangan ilegal ini. Pasalnya, sampai saat ini, masih banyak tambang ilegal yang masih beroperasi. “Pemerintahnya, intinya jangan sampai diizinkan bebas beraktivitas,” pungkasnya.

Media ini mencoba mendatangi lokasi atau aktivitas galian batu bara ilegal di kawasan Bedungun yang posisinya lebih tinggi dari jalan raya, saat sedang mengambil gambar lokasi, aktivitas alat berat langsung berhenti beroperasi.

Kemudian, warga RT 02 Bedungun, Desi menduga, genangan air yang tinggi itu, kemungkinan karena proyek drainase yang kurang baik.

“Jelas lah banjir, Bedungun nih setiap hujan sejam aja sudah banjir, kurang lebih sebetis. Tapi paginya sudah surut,” katanya, Minggu (29/9/2024).

Banjir tersebut membuat aktivitas masyarakat terganggu. Bahkan, warga yang menggunakan sepeda motor yang menerobos banjir, banyak kendaraan mereka yang mogok. “Motor aja bnyak mogok,” imbuhnya.

Dirinya menyebut, banjir tersebut lantaran banyak proyek drainase yang gagal. Bahkan, tidak hanya dirinya yang menganggap, tetapi banyak masyarakat yang berpikiran sama, bahwa drainase gagal.

“Banyak yang bilang drainase gagal sih, banyak yang bilang begitu. Apa lagi di jalan SMP itu, parah dalam betul,” ucapnya.

Lanjutnya, padahal trotoar yang dikerjakan sudah cukup bagus, sayangnya drainase dangkal. Sehingga terjadi banjir saat hujan, atau juga karena wilayah Bedungun merupakan dataran rendah.

Ia berharap, pemerintah segera memberikan solusi terkait permasalahan ini. Pasalnya, di wilayah tersebut, setiap kali hujan deras, pasti banjir.

“Padahal pemerintah sudah perbaiki paritnya dan jalannya ditinggikan. Tapi percuma juga, ujung-ujungnya masih sama banjir juga. Seperti di jalan SMP, sebelum diperbaiki memang sudah banjir. Setelah di perbaiki malah tambah parah, kasihan masyarakat yang lalu lalang ini,” tuturnya

Desi menjelaskan, saat banjir, dia susah mau kemana-mana. Bahkan, dirinya harus izin kerja. Apabila tidak diberi izin, dirinya menerobos banjir yang mengakibatkan motor yang di kendarainya mogok.

“Kami terobos banjirnya dan akhirnya motor kami mati, bikin rusak motor kalau banjir terus begini,” jelasnya.

Dia berharap, pemerintah bisa cepat menyelesaikan persoalan banjir tersebut. (RIZAL/ARIE)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *