Siaga 1, Sudah di Thailand

Virus Mpox Clade 1b

Otoritas kesehatan Thailand mengonfirmasi bahwa ada seorang pria yang terdeteksi mengidap Mpox dari virus jenis Clade 1b. Bagaimana dengan Indonesia?

Kasus tersebut dialami oleh seorang pria berusia 66 tahun dari negara Eropa yang tiba di Thailand minggu lalu dari negara Afrika yang tidak disebutkan di mana penyakit tersebut menyebar.

Thongchai Keeratihattayakorn, direktur jenderal Departemen Pengendalian Penyakit, menyebut hasil tes mengonfirmasi bahwa kakek itu terinfeksi cacar monyet jenis Clade 1b. Penularan itu merupakan kasus pertama yang didiagnosis di Thailand, tetapi pria ini kemungkinan terinfeksi dari negara endemis.

Ia mengatakan tidak ada infeksi lokal lain yang terdeteksi melalui pelacakan kontak. Clade 1b telah memicu kekhawatiran global karena mudahnya penyebarannya melalui kontak dekat rutin. Kasus varian tersebut dikonfirmasi minggu lalu di Swedia dan dikaitkan dengan wabah yang berkembang di Afrika, tanda pertama penyebarannya di luar benua tersebut.

Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan, wabah penyakit baru-baru ini sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional setelah varian baru tersebut diidentifikasi.

Pihak berwenang Thailand mengatakan bahwa pria yang dikonfirmasi menderita mpox itu telah transit di negara Timur Tengah, yang juga tidak mereka sebutkan, sebelum terbang ke Thailand pada Rabu, 21 Agustus 2024.

Kementerian kesehatan Singapura mengatakan telah mendeteksi 13 kasus infeksi Mpox clade 2 tahun ini. Sampai saat ini, semua infeksi Mpox di negara-kota itu, adalah infeksi clade 2 yang “kurang parah”, kata kementerian itu dalam sebuah buletin pada hari Kamis. Pemerintah mengatakan sedang memantau situasi global dengan cermat.

Kementerian kesehatan mengatakan bahwa sebagai tindakan pencegahan, mereka akan memeriksa suhu tubuh para pelancong yang tiba di Bandara Changi dan Seletar dari tempat-tempat yang berisiko terkena wabah mpox mulai hari Jumat.

Seberapa Berbahayakah Virus Mpox?

Seorang ahli Boehringer, memberikan penjelasan penuh tentang apa yang perlu masyarakat ketahui tentang patogen yang sebelumnya disebut “cacar monyet”. Virus Mpox, yang sebelumnya dikenal sebagai “cacar monyet”, pada tahun 2022. Saat itu, virus tersebut telah menyebar ke luar wilayah endemis Mpox, terutama di Eropa dan Amerika Utara.

Kini, dua tahun kemudian, muncul laporan tentang varian virus baru yang mungkin lebih berbahaya. Apa sebenarnya virus ini, bagaimana penularannya, dan apa saja gejala yang paling kentara? Dr. Christoph Keller, Penasihat Medis Senior di Boehringer Ingelheim, menjelaskan.

Christoph, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan penyebaran mpox sebagai “darurat Kesehatan masyarakat yang berdampak internasional” (PHEIC) pada hari Rabu, 14 Agustus. Apakah itu mengejutkan Anda?

Tentu saja, WHO terus memantau perkembangan dan secara berkala menilai situasi epidemiologi. Penilaian yang diumumkan pada hari Selasa murni merupakan langkah pencegahan.

Hal itu dimaksudkan untuk memberi tahu otoritas nasional khususnya, dan mempersiapkan mereka untuk kemungkinan wabah. Meskipun jumlah infeksi Mpox untungnya terus menurun secara global sejak gelombang infeksi pada tahun 2022 dan 2023, ada peningkatan tingkat infeksi dalam enam bulan terakhir, terutama di Republik Demokratik Kongo dan negara-negara tetangga.

Virus yang ditemukan terutama termasuk dalam varian “Clade I”, yang dianggap lebih menular dan berbahaya daripada varian “Clade II” telah mewabah dua tahun lalu.

Meskipun sampai dengan saat ini masih belum memiliki vaksin atau terapi pasti untuk melawan penyakit ini, tapi perkembangan penyakit menular di seluruh dunia berkembang dengan sangat cermat. Bagaimanapun, kita selalu mencari cara untuk meningkatkan kesehatan manusia dan hewan.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan data terbaru, mengenai situasi Mpox atau cacar monyet di Indonesia.

Hal ini menanggapi dengan munculnya kasus pertama mpox clade 1b di Thailand. Budi menegaskan bahwa Mpox clade 1b yang ditemukan di Thailand terjadi pada seorang yang memiliki riwayat perjalanan dari Republik Demokratik Kongo.

Di mana, clade 1b tengah mewabah di kawasan Afrika, termasuk Kongo. Sementara di Indonesia, BGS menegaskan belum ditemukan clade 1b. Di Indonesia sendiri, saat ini sudah terdapat cacar monyet untuk clade 2b.

“Kalau di Indonesia adanya clade 2,” ujar Budi di kawasan Tanah Abang, Jakarta, 26 Agustus 2024.

Ia memaparkan, sejak tahun 2022 mpox di Indonesia tercatat sebanyak 88 kasus. Pertama kali ditemukan pada 2022, Indonesia melaporkan sebanyak 1 kasus. Kemudian tahun 2023 meningkat hingga 73 kasus. Sementara pada tahun 2024, sejauh ini sudah ditemukan total 14 kasus mpox. Seluruh kasus tersebut merupakan varian clade 2b.

“Di Indonesia sendiri 2024 mungkin ada sekitar 14 dan belum ada lagi akhir-akhir ini,” katanya.

Kemudian, ia menyebut bahwa terdapat satu suspek baru yang saat ini tengah dicek. “Kemarin ada 1 potensi, tapi sekarang sedang dicek itu mpox atau bukan,” lanjutnya.

Budi mengungkapkan bahwa sebenarnya terdapat 4 suspek, 3 di antaranya dinyatakan negatif, sedangkan 1 sisanya masih dalam pengujian. Seperti yang diketahui, clade 1b ini memiliki tingkat fatalitas lebih tinggi dibanding clade 2b yang sudah menyebar di Indonesia.

“Tapi kalau yang clade 2b ini bisa diobati dengan fatality rate 0,2 persen, kecil sekali,” tandasnya.

Ia menyebut bahwa semua kasus mpox yang ditemukan di Indonesia sudah mendapatkan penanganan.(disway.id/arie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *