Ratusan Juta untuk Mangrove

Kadis Perikanan Berau Dahniar Ratnawati. Rama/Disway Kaltim

DINAS Perikanan Berau mendapat suntikan pendanaan Forest Carbon Partnership Facility – Carbon Fund (FCPF-CF), untuk menjaga keberlangsungan ekosistem penyerap karbon di kawasan pesisir Bumi Batiwakkal.

Kepala Dinas Perikanan Berau, Dahniar Ratnawati mengatakan, pihaknya mengelola dana tersebut untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga ekosistem mangrove. Untuk 2023, pihaknya menerima pendanaan sebesar Rp 650 juta.

“Kita terus berupaya menjaga keberadaan mangrove. Karena selain menjaga tanah agar tidak terjadi abrasi, ekosistem tersebut juga menjadi rumah bagi ikan, udang, makhluk air lainnya berkembang biak,” kata Dahniar, Minggu (12/11/2023).

Dia menyebut, sejumlah kegiatan seperti pengadaan barang dan pelatihan dilakukan Dinas Perikanan. Di antaranya, pengadaan sarana dan prasarana alat tangkap ramah lingkungan, yang diperuntukkan bagi nelayan di Kecamatan Talisayan dan Kampung Buyung-Buyung, serta Semurut.

Pemberian alat tangkap itu, merupakan upaya mengubah pola penangkapan yang awalnya turut merusak alam, menjadi ramah lingkungan.

Pada bidang budi daya, Dinas Perikanan berupaya agar masyarakat yang memiliki tambak di daerah mangrove, untuk belajar mengelola tambak secara ramah lingkungan. Artinya, kata Dahniar, batas perairan sungai tidak habis digerus. Harapannya, mengedukasi agar turut menjaga ekosistem.

“Mereka juga mendapatkan pelatihan di Tegal. Rencananya, akan diberangkatkan di bulan November ini,” tuturnya.

Lanjutnya, bidang pengolahan hasil perikanan juga tidak lepas dari upaya prngembangan. Mangrove memiliki potensi ekonomi sehingga pihaknya menggiring masyarakat untuk memanfaatkannya.

Contohnya, di Kampung Suaran, pihaknya telah memberikan bantuan alat pengolahan hasil air, sekaligus meningkatkan kualitas SDM dengan mendatangkan narasumber dari Griya UMKM Gianyar, Bali, mempelajari bagaimana mengolah buah mangrove.

Dengan demikian, tidak hanya bernanfaat menjaga ekosistem, tapi hasil dari mangrove bisa diolah. Produk yang sudah diproduksi di antaranya sirup buah mangrove dari Kampung Teluk Semanting. (advertorial)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *