Masih Andalkan Laporan Manual

Speedboat yang berada di Dermaga Sanggam Kabupaten Berau. (AZWINI/DISWAY KALTIM)

RENCANA Pemerintah Kabupaten Berau untuk memperketat pengawasan transportasi laut melalui pemasangan alat pemantau berbasis Global Positioning System (GPS) pada armada speedboat belum sepenuhnya terealisasi. Meski telah diprogramkan, kebijakan tersebut hingga kini masih terkendala belum tersedianya alokasi anggaran.

Sebelumnya diberitakan,  kebutuhan anggaran pemasangan GPS pada seluruh armada speedboat diperkirakan mencapai Rp8–10 miliar. Program tersebut dirancang untuk menekan risiko kecelakaan di perairan sekaligus memperkuat pengawasan operasional speedboat, khususnya yang beraktivitas dari Dermaga Sanggam.

Kepala Bidang Angkutan Darat dan Sungai Dishub Berau, Hendra Syaifuddin mengatakan, rencana pemasangan GPS sejatinya telah masuk dalam program Dishub dan sejalan dengan rekomendasi Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP).

“Sesuai masukan dari KUPP, alat ini akan memudahkan kami memantau pergerakan speedboat, terutama jika terjadi kerusakan atau kendala di tengah perjalanan,” kata Hendra belum lama ini.

Namun, hingga kini ia mengakui program tersebut belum mendapatkan alokasi anggaran. Kondisi ini membuat Dishub Berau masih mengandalkan pola pengawasan konvensional dalam memantau aktivitas transportasi laut di wilayah perairan setempat.

Hendra menjelaskan, selama ini pihaknya melakukan pengawasan melalui sistem pelaporan keberangkatan speedboat dari titik asal ke tujuan yang disampaikan kepada petugas KUPP. Setiap armada yang beroperasi diwajibkan melaporkan jadwal serta rute pelayaran sebelum berangkat.

“Setiap keberangkatan sudah dipantau. Pelaporan dari tempat asal ke tujuan disampaikan ke teman-teman KUPP,” ujar Hendra.

Selain laporan keberangkatan, pemantauan juga dilakukan melalui komunikasi radio serta ponsel yang digunakan motoris di masing-masing speedboat. Melalui sarana tersebut, motoris menyampaikan kondisi terkini selama pelayaran, termasuk situasi perairan yang dilintasi.

“Sejauh ini kami masih menggunakan radio dan ponsel motoris. Mereka melaporkan kondisi perjalanan atau situasi di lokasi yang dilintasi. Untuk sementara, itu yang kami gunakan,” pungkasnya. (MAULIDIA AZWINI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *