BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Berau mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, terutama banjir kiriman dari wilayah hulu.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Berau, Nofian Hidayat menjelaskan, kondisi geografis Berau khususnya wilayah Tanjung Redeb dinilai sangat rentan terjadi bencana banjir. Posisi ibu kota kabupaten ini berada di antara dua daerah aliran sungai (DAS), yakni Segah dan Kelay, yang dapat memicu potensi banjir rob ketika debit air meningkat.
“Tanjung Redeb ini terkepung oleh dua DAS. Kalau debit air dari dua sungai naik dan bertemu, potensi kemungkinan banjir rob sangat besar,” ujarnya.
Ia mencontohkan banjir besar di Kampung Long Ayap dan Long La’ai yang memperlihatkan bagaimana campuran air dan material mampu menimbulkan kerusakan besar.
“Itu kejadian ekstrem. Airnya mungkin 80 persen, materialnya 20 persen, tapi sudah bisa membawa bangunan dan merusak fasilitas umum. Bayangkan kalau materialnya lebih banyak,” ujarnya.
Selain faktor alam, Nofian menegaskan aktivitas manusia turut memperbesar risiko banjir. Kegiatan pertambangan dan pembukaan lahan untuk perkebunan sawit di wilayah hulu dapat menyebabkan tanah kehilangan daya serap. Akibatnya, limpasan air meningkat ketika hujan deras turun.
“Pembukaan lahan sawit itu biasanya besar-besaran. Sebaiknya bertahap, jangan langsung dibabat habis. Kalau daya serap tanah hilang, begitu hujan turun, risiko banjir langsung naik,” katanya.
Karena itu, Nofian menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi seharusnya seimbang dengan upaya menjaga keselamatan masyarakat. Pelaku usaha tidak hanya bertanggung jawab atas produksi, tetapi juga wajib memastikan edukasi kebencanaan tersampaikan kepada masyarakat di sekitar area operasional.
“Kita tidak bisa memungkiri bahwa pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk harus berjalan seiring dengan upaya menjaga keselamatan masyarakat, termasuk mereka yang berada di luar ring satu,” pungkasnya. (MAULIDIA AZWINI)












