MENJELANG pelaksanaan akreditasi perdana Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Berau yang dijadwalkan pada 4–5 Desember 2025, Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau menegaskan bahwa proses ini menjadi tahapan penting untuk mengembangkan layanan laboratorium daerah.
Kepala Dinas Kesehatan Berau, Lamlay Sarie mengatakan, peningkatan status Labkesda menjadi penting karena dengan status terakreditasi, Labkesda berpeluang naik menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), yang memungkinkan unit tersebut mengembangkan pelayanan secara lebih luas, termasuk dalam penetapan tarif dan bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.
“Kalau sudah berstatus BLUD, pengembangan layanan bisa jauh lebih fleksibel, diversifikasi layanan lebih mudah, dan tarifnya pun bisa lebih murah,” ujar Lamlay, Rabu (3/12/2025).
Namun, peningkatan status ini harus diiringi dengan pemenuhan sejumlah syarat. Mulai dari kesiapan gedung, kelengkapan alat pemeriksaan, peningkatan kompetensi petugas, hingga mutu pelayanan.
“Peningkatan strata Labkesda tidak bisa separuh-separuh. Gedung, alat, kompetensi, hingga standar pelayanannya harus dibenahi. Semuanya dinilai,” tambahnya.
Di sisi lain, dukungan sarana dan prasarana untuk Labkesda masih terbatas. Apalagi gedung yang saat ini ditempati adalah eks Puskesmas Bugis yang belum sepenuhnya memenuhi standar laboratorium kesehatan masyarakat. Menurut Lamlay, rencana renovasi sebenarnya telah diajukan, namun belum dipastikan dapat terealisasi pada 2026 mendatang.
Kebijakan efisiensi anggaran membuat rencana renovasi harus ditunda dan digeser dalam skala prioritas. Program dengan dampak langsung bagi masyarakat, seperti jaminan kesehatan daerah yang mencakup lebih dari 40 ribu warga harus diutamakan.
“Karena efisiensi mau tidak mau kita ambil yang benar-benar prioritas. Contohnya jaminan kesehatan,” ujarnya.
Meski berpotensi tertunda, Lamlay memastikan rencana renovasi telah masuk dalam dokumen perencanaan. Renovasi telah masuk ke Rencana Strategis (Renstra) Dinas Kesehatan 2025–2029, sehingga ketika kondisi fiskal pemerintah daerah membaik, program dapat langsung dijalankan tanpa harus mengulang proses perencanaan.
“Renovasi sudah kami masukkan ke renstra. Jadi ketika anggaran memungkinkan, program bisa langsung muncul,” pungkasnya. (MAULIDIA AZWINI)












