KEHADIRAN rumah sakit swasta pertama di Kabupaten Berau dipandang akan membawa warna baru bagi dunia layanan kesehatan di daerah. Namun, keberadaan fasilitas baru ini juga menimbulkan pertanyaan terkait kompetisi dengan rumah sakit pemerintah yang sudah lebih dulu berdiri, seperti RSUD dr Abdul Rivai dan RSUD Tanjung Redeb yang tengah menyiapkan operasionalnya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, Lamlay Sarie menegaskan, persaingan antar rumah sakit justru diharapkan dapat berlangsung secara sehat. Regulasi terbaru mendorong setiap rumah sakit, baik swasta maupun milik pemerintah untuk mengembangkan layanan unggulan masing-masing.
“Rumah sakit itu nanti harus mengembangkan program unggulannya masing-masing,” ujar Lamlay Sarie, Selasa (30/9/2025).
Menurutnya, setiap rumah sakit akan diarahkan untuk menetapkan segmen layanan tertentu sesuai strategi bisnisnya. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh pilihan layanan yang lebih bervariasi, tanpa menimbulkan persaingan yang merugikan.
“Mereka nanti mencari segmennya. Sehingga rumah sakit akan bersaing secara sehat,” katanya.
Dinkes Berau berperan memastikan kompetisi berjalan sesuai aturan, terutama dalam hal standar mutu dan keselamatan pasien. Ia menekankan, kualitas pelayanan kesehatan harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar mengejar jumlah pasien.
Diketahui, pembangunan rumah sakit swasta pertama di Berau yang bertipe D itu ditargetkan selesai dalam 8 bulan ke depan. Berdiri di atas lahan seluas 2.700 meter persegi dengan tiga lantai bangunan, fasilitas ini dirancang memiliki ruang rawat inap berkapasitas 50 pasien, dua ruang operasi, serta poliklinik dengan sejumlah layanan spesialis dasar seperti anak, penyakit dalam, bedah, dan obstetri ginekologi (Obgyn).
Ke depan, layanan poli jantung, paru, dan ortopedi juga akan dibuka untuk memperluas pilihan masyarakat, melengkapi keberadaan dua RSUD yang sudah lebih dulu beroperasi.
“Diharapkan masyarakat Berau memperoleh pelayanan kesehatan yang lebih cepat, terjangkau, dan berkualitas, seiring terciptanya iklim persaingan yang sehat,” pungkasnya. (MAULIDIA AZWINI)












