Berau Expo Terancam Molor

Berau Expo tahun 2024. (Rizal/Disway Kaltim)

AGENDA tahunan Berau Expo yang biasanya menjadi magnet utama peringatan HUT Kabupaten Berau, hingga kini belum kunjung memiliki kepastian jadwal. Padahal, hajatan ini bukan sekadar pesta rakyat, melainkan momentum penting bagi pelaku UMKM lokal untuk memasarkan produk sekaligus ruang bagi pemerintah daerah menunjukkan geliat investasi dan potensi daerah.

Kondisi tersebut diakui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Berau. Penata Kelola Penanaman Modal (PKPM) Ahli Pertama DPMPTSP Berau, Ali Firmansyah menegaskan, meski anggaran telah tersedia, kepastian waktu pelaksanaan masih bergantung pada keputusan Bupati.

“Dari sisi anggaran sudah aman. Tetapi untuk tanggal pelaksanaan belum bisa ditetapkan karena menunggu koordinasi final dengan kepala daerah,” ujarnya, Kamis (28/8/2025).

Ali menyebutkan, peluang terbesar pelaksanaan Berau Expo 2025 berada di bulan Oktober. Namun itu pun masih harus melalui mekanisme lelang penunjukan Event Organizer (EO). Tanpa kepastian EO, seluruh tahapan persiapan otomatis terhambat.

“EO ditentukan lewat proses lelang. Jadi kita tidak bisa bergerak sebelum pemenangnya resmi diumumkan. Begitu ada kepastian, barulah persiapan teknis bisa dijalankan,” imbuhnya.

Dari segi anggaran, Pemkab Berau menyiapkan dana sekira Rp3 miliar, hampir sama dengan tahun sebelumnya. Seperti tradisi, seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) serta pelaku UMKM akan dilibatkan. Sementara konsep acara tetap menitikberatkan pada promosi UMKM dan hiburan rakyat sebagai daya tarik utama.

Namun, yang juga menjadi sorotan adalah lokasi pelaksanaan. Meski Bupati Berau sempat mewacanakan pemindahan lokasi ke area yang lebih luas, Ali mengakui kemungkinan besar acara tetap dipusatkan di Lapangan Pemuda Tanjung Redeb.

“Sejauh ini, lokasi yang paling realistis tetap Lapangan Pemuda. Kita memang belum punya area lain yang lebih representatif,” katanya.

Ketidakpastian ini menimbulkan pertanyaan publik. Bagi pelaku UMKM, molornya jadwal berarti menunda peluang penjualan yang biasanya melonjak selama pameran. Sementara bagi pemerintah daerah, keterlambatan bisa mengurangi gaung perayaan HUT yang selama ini dikenal meriah dan mampu menyedot ribuan pengunjung. (MAULIDIA AZWINI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *