Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) optimistis dapat mencapai target nasional penurunan stunting sebesar 14 persen.
Optimisme itu berkaca dari data prevalensi stunting, meski ada peningkatan di 2024 dibanding 2023. Namun jika melihat tahun sebelumnya, angka prevalensi stunting di Kaltara sebesar 22 persen.
“Untuk tahun 2024 prevalensi stunting berada di angka 17,6 persen. Angka ini meningkat 0,2 dari angka prevalensi stunting tahun 2023 yaitu 17,4 persen,” kata Kepala Bappeda Litbang Kaltara, Bertius, belum lama ini.
Meski masih cukup jauh dari target nasional, Bertius mengaku tetap optimistis tercapai.
Ia menyebut, berdasarkan data hasil status gizi di Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 2024 lalu, angka balita stunting tertinggi berada di Kabupaten Malinau (26,1 persen), Nunukan (21,7 persen), Bulungan (15,9 persen).
“Terendah ada di Kabupaten Tana Tidung 7,4 persen dan Kota Tarakan 12,4 persen. Saya yakin kerja sama dan strategi yang tepat, target penurunan stunting sebesar 14 persen dapat tercapai,” ujarnya.
Bertius mengungkapkan, Kaltara memiliki sejumlah hambatan dalam penanganan stunting. Seperti letak geografis dan aksesibilitas, layanan kesehatan, ketersediaan ketahanan pangan, hingga perilaku.
“Wilayah Kaltara ini cukup luas, termasuk ada daerah terpencil dan perbatasan, distribusi pangan bergizi pun belum merata,” ujarnya.
Namun, pihaknya terus mendorong pemerintah kabupaten/kota membuat program pencegahan stunting yang fleksibel dan sesuai dengan pokok permasalahan di daerah masing-masing.
“Hal terpenting, yakni fokus mencegah adanya kasus baru stunting dengan program berkelanjutan, memulai dari hulu persoalannya, dan memeriksa kesehatan secara berkala,” kata Bertius. (Muhammad Efendi)